kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,54   -7,05   -0.89%
  • EMAS940.000 0,64%
  • RD.SAHAM 0.78%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Usai Ombudsman ketemu Pertamina, pupus harapan harga BBM turun


Kamis, 28 Mei 2020 / 10:26 WIB
Usai Ombudsman ketemu Pertamina, pupus harapan harga BBM turun
ILUSTRASI. Petugas menggunakan baju kebaya saat melayani pembeli BBM di SPBU Coco Ulak Karang, Padang, Sumatera Barat, Selasa (21/4/2020). Ombudsman ketemu Pertamina, harapan harga BBM turun langsung pupus. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat sempat berharap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa turun mengukuti penurunan harga minyak mentah dunia. Tapi harapan harga BBM turun itu segera pupus, setelah Ombidsman bertemu dengan Manajemen Pertamina.

Hasil pertemuan antara Ombudsman Republik Indonesia dengan manajemen PT Pertamina menyatakan harga BBM sulit turun dalam kondisi sekarang.

Pertemuan Ombudsman dengan manajemen Pertamina berlangsung Selasa (19/5/2020) silam. Pertemuan ini sebnernya bertujuan menelusuri penyebab harga BBM di Indonesia tidak kunjung turun meski harga minyak dunia sempat melemah hingga di bawah US$ 20 per barel.

Rupanya dalam pertemuan itu Ombudsman mendapat penjelasan gambang dari Pertamina. Anggota Ombudsman RI Laode Ida mengungkapkan, paling tidak ada empat alasan mengapa PT Pertamina (Persero) sebagai penyalur utama BBM di dalam negeri belum menurunkan harga.

"Mereka (direksi Pertamina) telah memberikan penjelasan, dan kami melakukan diskusi tentang itu," kata Laode kepada Kontan.co.id, Rabu (27/5).

Alasan pertama, harga pokok BBM yang dijual di Indonesia sekarang ini masih menggunakan harga atau komponen biaya sebelum harga minyak mentah dunia anjlok.

Kedua, perusahaan migas plat merah tersebut masih mencermati fluktuasi harga minyak dunia, yang saat ini tren harganya cendung meningkat.

Pada saat pertemuan Ombudsman dengan direksi Pertamina, harga minyak dunia sudah menanjak ke level US$ 30-an per barel, padahal sebelumnya sempat berada di bawah US$ 20-an per barel atau level terendah dalam 18 tahun terakhir.

Ketiga, pertimbangan faktor kondisi keuangan Pertamina. Keempat, kondisi pandemi corona (covid-19) ini menambah kompleksitas lantaran ikut menurunkan konsumsi masyarakat, yang membuat penjualan BBM Pertamina anjlok di masa pandemi ini.

Secara korporasi, jika harga dipaksakan turun maka Pertamina akan menderita kerugian. Bahkan berpotensi terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Jika harga BBM dipaksa turun, ini akibatnya >>>

Secara hitungan keekonomian, alasan Pertamina untuk masih mempertahankan harga BBM masih masuk akal. "Konsumsi turun, penjualan BBM turun drastis, pemasukan

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×