kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Uang Beredar Meningkat pada September 2026, Belum Cerminkan Penguatan Sektor Riil


Jumat, 23 Oktober 2026 / 19:41 WIB
Uang Beredar Meningkat pada September 2026, Belum Cerminkan Penguatan Sektor Riil
ILUSTRASI. Pertumbuhan uang beredar dalam arti luas atau M2 pada September 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi riil. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2026 mencapai Rp 10.587,9 triliun . Pertumbuhan M2 tersebut mencapai 8,3% year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 8,2% YoY.

Direktur Riset (Research Director) di Bright Institute Muhammad Andri Perdana menilai, meski meningkat, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas atau M2 pada September 2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi riil.

Pasalnya, kenaikan M2 justru diikuti perlambatan pertumbuhan uang primer atau M0, yang mengindikasikan peran sektor riil belum menjadi pendorong utama ekspansi likuiditas. Uang Primer (M0) adjusted pada September 2026 tercatat sebesar Rp2. 353,1 triliun atau tumbuh 9,3% yoy, namun lebih rendah dari pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 16,3 % yoy.

Baca Juga: Polri Tetapkan 13 Korporasi dan 243 orang Tersangka Karhutla

Andri mengatakan, pertumbuhan M2 yang lebih tinggi pada dasarnya dapat menjadi sinyal positif bagi perekonomian. Namun, perkembangan tersebut perlu dicermati dengan melihat pergerakan M0 yang lebih erat kaitannya dengan uang primer dalam sistem perekonomian.

“Bisa jadi indikasi baik andai M0 juga naik lebih baik dari sebelumnya. Karena M0 ini yang benar-benar berputar di perekonomian riil,” ujar Andri kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Di sisi lain, pertumbuhan M2 justru meningkat. Perbedaan arah pertumbuhan kedua indikator tersebut dinilai menunjukkan bahwa peningkatan likuiditas belum tentu berasal dari aktivitas ekonomi sektor swasta secara langsung.

Andri melihat, salah satu faktor yang diduga menjadi pendorong utama kenaikan M2 adalah peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Pada September 2026, komponen tersebut tumbuh 24,4% yoy, berbalik dari kontraksi sebesar 7% yoy pada Agustus 2026.

Perubahan signifikan tersebut mengindikasikan adanya peningkatan kontribusi pemerintah terhadap pertumbuhan uang beredar. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah percepatan belanja pemerintah atau pencairan stimulus pada September 2026.

“Artinya, ini bisa disebabkan karena terjadi belanja pemerintah (pencairan anggaran/stimulus) yang masif di September,” jelasnya.

Ia menambahkan, belanja pemerintah yang disalurkan ke masyarakat dapat meningkatkan saldo rekening dan tabungan sehingga mendorong pertumbuhan M2. Dengan demikian, kenaikan uang beredar dalam periode tersebut diduga lebih banyak ditopang oleh ekspansi fiskal ketimbang aktivitas sektor riil swasta.

Baca Juga: Indonesia Masuk 7 Besar Ekonomi Dunia, Ekonom Ingatkan Kesejahteraan Belum Sejalan

Andri juga menyoroti kondisi likuiditas perbankan yang perlu dicermati di tengah perlambatan pertumbuhan M0. Menurutnya, perbedaan perkembangan M2 dan M0 menunjukkan bahwa peningkatan uang beredar perlu dilihat lebih jauh berdasarkan sumber pertumbuhannya, bukan hanya dari besaran kenaikannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×