Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah dan penurunan cadangan devisa Indonesia dalam beberapa bulan terakhir dinilai lebih dipicu tekanan global ketimbang masalah fundamental domestik.
Kombinasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak, hingga arus modal keluar menjadi faktor utama yang menekan pasar keuangan dalam negeri.
Data menunjukkan, cadangan devisa Indonesia turun dari US$ 156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$ 151,9 miliar pada Februari 2026, atau menyusut sekitar US$ 4,6 miliar dalam dua bulan.
Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah juga terus tertekan dan sempat melemah ke level Rp 17.002 per dolar AS pada awal April 2026.
Baca Juga: IHSG Tertekan: Konflik Global dan Rupiah Lemah Picu Aksi Jual Asing
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Banjaran Surya Indrastomo, menilai kondisi ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama tingginya suku bunga di AS yang mendorong capital outflow dari negara berkembang.
Selain itu, terdapat faktor musiman seperti meningkatnya kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri.
"Sehingga bukan semata refleksi pelemahan fundamental domestik, ujarnya Kepada KONTAN, Minggu (5/4/2026).
Ia menambahkan, respons kebijakan yang dilakukan saat ini merupakan sinergi antara otoritas moneter dan fiskal.
Bank Indonesia (BI) aktif menjaga stabilitas melalui berbagai instrumen seperti SRBI dan SUVBI, tanpa sepenuhnya mengandalkan cadangan devisa.
Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal meski menjalankan kebijakan belanja yang lebih ekspansif untuk menopang pertumbuhan.
Baca Juga: Pernyataan Trump Picu Guncangan Pasar Global, Rupiah Terdampak Parah
Dari sisi fundamental, kondisi ekonomi domestik dinilai masih cukup kuat. Inflasi yang terjaga dan proyeksi pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% pada kuartal I-2026 menjadi penopang stabilitas rupiah.
Secara fundamental, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.950 per dolar AS. Bahkan, cadangan devisa diproyeksikan kembali meningkat ke sekitar US$154 miliar pada Maret 2026, didorong penerbitan obligasi global.
Senada, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto melihat tekanan terhadap rupiah juga dipicu penguatan dolar AS di tengah sentimen risk aversion global.
Ia menyoroti lonjakan harga minyak dan konflik geopolitik sebagai faktor dominan yang mendorong investor menarik dana dari pasar domestik.
Menurutnya, tekanan eksternal tersebut diperparah oleh meningkatnya kebutuhan dolar di dalam negeri, terutama untuk impor BBM dan bahan baku industri yang masih tinggi seiring aktivitas ekonomi yang tetap ekspansif.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.041, Cetak Rekor Terburuk! Lonjakan Harga Minyak Jadi Biang Keladi
Permintaan valas juga meningkat untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri, sehingga memperbesar tekanan di pasar.
Intervensi Bank Indonesia pun terus dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, NDF, hingga lelang surat berharga, guna meredam volatilitas. Langkah ini, kata Myrdal, merupakan strategi stabilisasi, bukan sekadar menutup kelemahan fiskal.
Ke depan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek, dengan kisaran di level Rp16.850 hingga Rp16.900 per dolar AS. Cadangan devisa juga berpotensi kembali tergerus seiring kebutuhan stabilisasi dan tingginya permintaan dolar.
Meski begitu, peluang penguatan rupiah tetap terbuka jika sentimen global membaik. Meredanya konflik geopolitik dan stabilisasi harga minyak berpotensi menarik kembali arus modal asing.
Baca Juga: Tembus Level Psikologis, Rupiah Berpotensi Melemah Lagi ke Rp 17.250 Per Dolar AS
“Jika konflik mereda dan harga minyak stabil, rupiah bisa menguat ke bawah Rp16.800 per dolar AS,” tutup Myrdal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













