kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Target pertumbuhan ekonomi diproyeksi sulit tercapai, begini respons Menko Darmin


Senin, 05 Agustus 2019 / 14:20 WIB


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua 2019 melambat yakni hanya 5,05% secara tahunan (yoy). Padahal, target pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini sebesar 5,3% yoy. 

Dalam pertemuan dengan DPR akhir Juli lalu, pemerintah memang telah menetapkan prognosis pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,2% yoy. Namun, dengan capaian pertumbuhan hingga akhir semester I yang hanya 5,06% yoy, proyeksi tersebut makin sulit tercapai. 

Baca Juga: Menko Darmin akui pertumbuhan ekonomi kuartal II lebih rendah dari ekspektasi

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir tahun sulit diprediksi. Ia pun enggan menyimpulkan seperti apa pertumbuhan ekonomi ke depan. 

“Tentu saja tergantung ekonomi globalnya seperti apa. Artinya, kita tidak bisa bilang ini murni sekadar ekonomi dalam negeri. Globalnya bagaimana, kita belum tahu,” kata Darmin di Hotel Borobudur, Senin (5/8). 

Berbagai kebijakan, lanjutnya, telah ditempuh pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Saat ini pemerintah tinggal memperhatikan seperti apa implementasi dari kebijakan-kebijakan tersebut. 

Dari sisi eksternal, Darmin mengatakan, memanasnya perang dagang Amerika Serikat dan China akibat tarif baru yang diterapkan Presiden Donald Trump akan menjadi tantangan yang memberatkan laju ekonomi Indonesia. 

Baca Juga: BPS: Ekonomi Indonesia kuartal II tumbuh 5,05%

Sementara dari sisi domestik, perlambatan impor menjadi persoalan yang harus dijawab pemerintah lantaran memengaruhi pertumbuhan ekonomi cukup signifikan. Padahal, di sisi lain, pemerintah menekan impor demi memperbaiki kondisi neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit. 

“Kita perlu menjawab impor yang turun ini, tapi saya juga belum ketemu clue untuk menjawab itu,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×