kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Survei Mandiri Spending Index: Belanja Masyarakat Terjaga, Tapi Mulai Melandai


Kamis, 03 September 2026 / 17:44 WIB
Survei Mandiri Spending Index: Belanja Masyarakat Terjaga, Tapi Mulai Melandai
ILUSTRASI. Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), rata-rata pertumbuhan belanja masyarakat pada kuartal III 2026 mencapai sekitar 6% secara tahunan. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan belanja masyarakat pada kuartal III 2026 masih terjaga, meski mulai melandai. Konsumsi rumah tangga juga semakin terkonsentrasi pada kebutuhan pokok sehari-hari, sementara belanja untuk kebutuhan sekunder cenderung lebih terbatas.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Departemen Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan, berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), rata-rata pertumbuhan belanja masyarakat pada kuartal III 2026 mencapai sekitar 6% secara tahunan (year on year/yoy).

Menurut Dian, pertumbuhan tersebut relatif tidak jauh berbeda dibandingkan dengan capaian pada kuartal II 2026. Dengan demikian, aktivitas belanja masyarakat masih tergolong resilien meski terdapat sedikit perlambatan.

Baca Juga: Di Vladivostok, Presiden Prabowo Tegaskan Politik Nonblok

"Jadi data MSI terkini, pertumbuhan belanja di kuartal III 2026 masih resilien walaupun sedikit melandai. Angkanya rata-rata pertumbuhan di kuartal III itu 6% year on year, relatif mirip dengan kuartal II 2026," ujar Dian dalam agenda Indonesia Economic Outlook: Building Domestic Resilience in the Midst of Global Vulnerability, Kamis (3/9).

Dari sisi komposisi, peningkatan belanja terutama terlihat pada kategori daily needs atau kebutuhan pokok sehari-hari. Sementara itu, belanja untuk kebutuhan yang bersifat discretionary atau sekunder tumbuh lebih moderat.

Dian menyebut belanja terkait mobilitas dan kebutuhan nonpokok masih mencatat pertumbuhan yang lebih rendah. Begitu pula dengan belanja rumah tangga dan hiburan yang cenderung terbatas.

Bahkan, belanja untuk kategori hiburan mencatat kontraksi tipis sebesar 0,1%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan prioritas masyarakat dalam membelanjakan pendapatannya dengan lebih berfokus pada kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Ekonomi AI Diproyeksi Capai US$ 15,7 Triliun, Indonesia Bisa Tangkap Peluang

"Belanjanya memang kelihatan meningkat terutama untuk daily needs. Sementara kalau untuk kebutuhan yang discretionary atau sekunder, misalnya belanja mobilitas dan kebutuhan esensial, tumbuhnya relatif lebih mild," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Dian memperkirakan tren belanja masyarakat hingga akhir 2026 masih relatif stabil. Konsumsi masyarakat diperkirakan tetap memperoleh dukungan dari sejumlah faktor, termasuk belanja pemerintah dan stimulus yang diluncurkan pada semester II 2026.

"Kita melihat sampai akhir tahun karena memang masih akan ada topangan terutama dari belanja pemerintah dan juga dari stimulus-stimulus yang diluncurkan oleh pemerintah di semester II," kata Dian.

Selain itu, momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) diperkirakan turut memberikan dorongan terhadap konsumsi pada akhir tahun. Periode libur panjang tersebut secara historis menjadi salah satu momentum peningkatan aktivitas belanja masyarakat.

"Di akhir tahun kita tentunya akan ada di periode Nataru, di mana belanja biasanya akan pick up dengan periode libur Natal dan Tahun Baru," pungkas Dian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×