kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45878,14   -8,04   -0.91%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Surplus Neraca Perdagangan Januari 2023 Tunjukkan Pemulihan Ekonomi Terus Berlanjut


Kamis, 16 Februari 2023 / 13:46 WIB
Surplus Neraca Perdagangan Januari 2023 Tunjukkan Pemulihan Ekonomi Terus Berlanjut
ILUSTRASI. Neraca Perdagangan: Aktivitas bongkar muat kontainer berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta,


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia masih mengalami surplus pada bulan Januari 2023. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 33 bulan berturut-turut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan Indonesia pada periode tersebut sebesar US$ 3,87 miliar.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, Surplus neraca perdagangan pada awal tahun ini merupakan awal yang baik dalam memperkuat resiliensi perekonomian nasional dalam menghadapi tantangan global ke depan.

“Angka ekspor dan impor masih cukup tinggi, bahkan paling tinggi jika dibandingkan angka pada bulan Januari tahuntahun sebelumnya,” tutur Febrio dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/2).

Baca Juga: Analis Ini Prediksi Surplus Neraca Perdagangan RI Akan Menyempit pada Tahun 2023

Adapun kondisi ekspor Indonesia bulan Januari mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik, meningkat sebesar 16,37% (YoY) atau mencapai US$ 22,31 miliar.

Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan ekspor baik komoditas migas maupun nonmigas, yang masih masing-masing meningkat sebesar 65,03% (YoY) dan 13,97% (YoY).

Beberapa komoditas utama yang mendukung positifnya kinerja ekspor di antaranya logam mulia dan perhiasan/permata serta karet dan barang dari karet.

Ekspor ke negara mitra dagang utama juga tetap mencatatkan pertumbuhan yang kuat. Ekspor produk nonmigas ke China yang mencapai 25,2% dari total ekspor non-migas tumbuh sebesar 49,4% (yoy).

Diikuti dengan ekspor nonmigas ke kawasan ASEAN (18,9% dari total ekspor nonmigas) dan India (6,5% dari total ekspor nonmigas) yang masing-masing tumbuh 17,5%, dan 30,5% secara tahunan.

Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Bisa Berumur Panjang

“Walaupun PMI Manufaktur beberapa negara mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok masih ada dalam zona kontraksi, ekspor masih tumbuh tinggi di awal tahun ini,” jelansya.

Sementara itu, impor bulan Januari 2023 tercatat sebesar US$ 18,44 miliar atau tumbuh 1,27% (YoY). Dilihat dari penggunaannya, baik impor barang konsumsi, barang modal, dan bahan baku penolong masih tumbuh positif, masingmasing sebesar 1,09% (YoY), 5,66% (YoY) dan 0,41% (YoY).

“Pertumbuhan semua jenis impor yang konsisten positif di semua jenis menunjukkan bahwa aktivitas produksi di dalam negeri masih terus ekspansif yang sejalan dengan indikator PMI yang meningkat di bulan Januari,” lanjut Febrio.

Sementara dilihat dari jenis komoditasnya, impor didominasi oleh komoditas utama, termasuk mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya.

Ke depan, Pemerintah tetap mewaspadai potensi tekanan dari perlambatan ekonomi global, sebagaimana tercermin dari masih terkontraksinya PMI Manufaktur negara mitra dagang.

Febrio mengatakan, Pemerintah akan terus mengupayakan untuk meningkatkan daya saing produk ekspor, termasuk melalui dorongan hilirisasi sumber daya alam, serta mendorong diversifikasi negara tujuan ekspor, termasuk ke negara-negara potensial.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×