kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.541   41,00   0,23%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

ST016 Tawarkan Imbal Hasil hingga 6,25%, Jadi Incaran di Tengah Gejolak Pasar?


Jumat, 08 Mei 2026 / 17:18 WIB
ST016 Tawarkan Imbal Hasil hingga 6,25%, Jadi Incaran di Tengah Gejolak Pasar?
Jaga Defisit Fiskal 3% dan Kejar Tax Ratio 12% di 2026, Wamenkeu Beberkan Tiga Strategi Pemerintah (KONTAN/Nurtiandriyani S)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi menawarkan Sukuk Tabungan seri ST016 mulai 8 Mei hingga 3 Juni 2026 dengan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding sejumlah instrumen simpanan konvensional. 

Di tengah pasar keuangan yang masih bergejolak, instrumen syariah ritel ini dibidik menjadi tempat parkir dana yang aman sekaligus memberikan pendapatan bulanan tetap bagi investor.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan kupon ST016 tenor dua tahun (ST016-T2) sebesar 6,05% dan tenor empat tahun (ST016-T4) sebesar 6,25%. 

Kupon tersebut menggunakan skema floating with floor atau mengambang dengan batas minimal, sehingga investor tetap memperoleh imbal hasil minimum meski suku bunga acuan turun.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Bukukan Imbal Hasil di Atas Counter Rate pada 2025

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan ST016 dirancang untuk memberikan kombinasi keamanan dan potensi keuntungan yang kompetitif bagi investor ritel.

“ST016 menawarkan imbalan dengan skema floating with floor, sehingga investor memperoleh tingkat imbalan minimal yang tetap menarik, dengan potensi penyesuaian mengikuti pergerakan suku bunga Bank Indonesia,” ujar Juda, Jumat (8/5/2026).

Besaran kupon itu dihitung dari BI Rate yang saat ini berada di level 4,75%, ditambah spread tetap 1,30% untuk ST016-T2 dan 1,50% untuk ST016-T4. 

Artinya, jika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, imbal hasil ST016 juga berpotensi ikut naik pada periode evaluasi berikutnya. Sebaliknya, jika suku bunga turun, investor tetap menerima kupon minimal 6,05% dan 6,25% hingga jatuh tempo.

Dengan investasi mulai Rp1 juta, ST016 juga menawarkan pendapatan bulanan yang relatif stabil. Berdasarkan simulasi pemerintah, investasi Rp10 juta pada ST016-T2 memberikan imbal hasil bersih sekitar Rp45.378 per bulan setelah pajak 10%, sedangkan ST016-T4 sekitar Rp46.872 per bulan.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai tingkat kupon tersebut masih tergolong atraktif untuk instrumen berisiko rendah yang dijamin negara.

Baca Juga: BPSJ Watch Nilai Imbal Hasil BPJS Ketenagakerjaan 2025 Belum Optimal

“Dengan imbalan 6,05% untuk ST016-T2 dan 6,25% untuk ST016-T4, menurut saya kuponnya cukup atraktif,” kata Josua.

Menurutnya, daya tarik ST016 semakin kuat karena kondisi global masih dipenuhi ketidakpastian, mulai dari tekanan terhadap rupiah, harga minyak yang tinggi, hingga risiko geopolitik Timur Tengah. Situasi tersebut membuat investor cenderung mencari instrumen defensif dengan pendapatan tetap.

Selain menawarkan kupon kompetitif, ST016 juga memiliki pajak lebih rendah dibanding deposito. Pajak kupon SBN ritel hanya 10%, sementara pajak bunga deposito mencapai 20%. Instrumen ini pun dijamin pemerintah melalui Undang-Undang SBSN dan APBN sehingga risiko gagal bayar dinilai sangat rendah.

Meski demikian, investor perlu memahami bahwa ST016 tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder seperti obligasi negara tradable. Investor memang mendapat fasilitas early redemption atau pencairan awal, tetapi hanya sebagian dan pada periode tertentu.

Untuk ST016-T4 misalnya, pencairan awal hanya dapat dilakukan dengan syarat kepemilikan minimal Rp2 juta, nilai pencairan minimal Rp1 juta, dan maksimal 50% dari total kepemilikan.

Baca Juga: PNM Tawarkan Obligasi dan Sukuk Orange Tahap Baru, Beri Imbal Hasil Hingga 6%

Karena itu, Josua menilai pilihan tenor perlu disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas investor. Tenor dua tahun dinilai lebih fleksibel, sedangkan tenor empat tahun cocok bagi investor yang mengejar imbal hasil lebih tinggi dan siap menahan dana lebih lama.

Dari sisi permintaan pasar, pemerintah menargetkan penjualan ST016 sebesar Rp15 triliun. Namun, sejumlah analis memperkirakan realisasinya bisa lebih tinggi.

Josua memproyeksikan penjualan ST016 berpotensi mencapai Rp18 triliun hingga Rp22 triliun, ditopang kondisi pasar yang tidak pasti serta potensi reinvestasi dana jatuh tempo ST012-T2 yang mencapai Rp14,42 triliun.

Menurut dia, jika 30% hingga 50% dana tersebut kembali masuk ke ST016, potensi dana reinvestasi bisa mencapai Rp4 triliun sampai Rp7 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto, juga menilai kupon ST016 termasuk tinggi dibanding penerbitan SBN ritel beberapa tahun terakhir.

“Dari sisi investor ritel, instrumen ini menjadi menarik karena menawarkan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibandingkan penerbitan sebelumnya,” ujar Ramdhan.

Baca Juga: Di Tengah Gejolak Pasar, Dapen BCA Nilai Kenaikan Yield Obligasi Jadi Peluang

Ia optimistis target penjualan pemerintah dapat tercapai karena investor saat ini cenderung mencari instrumen yang aman dan memberikan kepastian imbal hasil di tengah volatilitas pasar global dan domestik.

Selain itu, tenor empat tahun ST016 juga diterbitkan dalam format green sukuk. Dana yang dihimpun akan digunakan untuk pembiayaan proyek ramah lingkungan, sehingga investor tidak hanya memperoleh keuntungan finansial tetapi juga ikut mendukung pembiayaan program mitigasi perubahan iklim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×