Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pemerintah memberikan pemanis investasi baru yang lebih kompetitif untuk sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
Hal ini merespons langkah Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang sedang memformulasikan alternatif insentif menggantikan skema tax holiday.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Kadin Indonesia, Carmelita Hartoto menilai pemberian insentif khusus sangat krusial mengingat karakteristik proyek EBT membutuhkan modal besar.
Baca Juga: Pemerintah Pangkas Perizinan Tenaga Kerja Asing Jadi 5 Hari, Berlaku Akhir September
Menurutnya, pembuat kebijakan perlu menghadirkan formula insentif pajak yang mampu menjaga daya tarik investasi EBT di dalam negeri.
"Ya suatu hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk menarik investor dengan memberikan sweetener ya, khususnya pada sector EBT yang memang membutuhkan dana yang besar," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (9/9/2026).
Carmelita mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan perpanjangan jangka waktu insentif perpajakan bagi para penanam modal di sektor energi bersih.
Ia menyarankan skema insentif pajak baru tersebut dapat diakomodasi melalui pemberian tax holiday dengan durasi yang lebih panjang, misalnya hingga 15 tahun.
"Saya kira, bisa memberikan tax holiday dengan durasi yang lebih panjang. Misalnya 15 tahun gitu," terangnya.
Baca Juga: Polemik Setoran Keuntungan Rp 120 Triliun, Danantara dan Pemerintah Beda Sikap
Selain insentif fiskal, Carmelita juga menggarisbawahi persoalan kelayakan pendanaan (bankability) serta skala keekonomian proyek EBT yang kerap menjadi kendala utama investor. Dia menjelaskan bahwa proyek EBT memerlukan kegiatan riset mendalam sehingga membutuhkan kejelasan struktur proyek agar dapat diterima oleh lembaga perbankan.
"Ini merupakan tantangan lainnya ya di sector EBT, karena berbeda dengan investasi industri lainnya, di sector EBT banyak melakukan riset, maka memang perlu ada persiapan dan pengetahuan yang jelas dan dapat diprediksi pada sebuah proyek EBT ya, sehingga investor maupun bank bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih baik," jelasnya.
Ke depan, pelaku usaha mengharapkan adanya sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berkelanjutan guna menciptakan kepastian iklim investasi jangka panjang. Carmelita berharap pemerintah dapat menetapkan insentif yang atraktif sekaligus konsisten agar mampu mendongkrak realisasi investasi di sektor EBT secara signifikan.
"Tentu kita berharap pemerintah bisa memberikan sweetener yang bisa menarik bagi investor, dengan dukungan fiskal maupun moneter yang lebih kompetitif, kemudian bisa memberikan kepastian usaha dalam jangka Panjang, dengan kebijakan yang konsisten ya," pangkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














