kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.012   4,00   0,02%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Sektor investasi diprediksi tumbuh kuartal II


Senin, 04 Mei 2015 / 22:53 WIB
ILUSTRASI. Twibbon Hari Guru Nasional 2023. 


Sumber: Antara | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memprediksi investasi di pasar modal akan tumbuh lebih baik pada kuartal II meskipun terjadi pelemahan di pasar saham pada kuartal I.

"Ke depan kita optimistis investasi tumbuh. Kita lihat adanya relaksasi investasi," kata Head of Research PT MAMI Katarina Setiawan dalam jumpa pers di World Trade Centre, Senin (4/5).

Ia mengatakan Kuartal I mengalami perlambatan dalam pertumbuhan investasi karena beberapa hal misalnya, anggaran di kementerian/lembaga dalam menjalankan program pemerintahan disetujui pada Februari sehingga proyek negara belum sepenuhnya berjalan.

Sementara, kuartal II 2015 ini akan mendorong tumbuhnya investasi karena ada perbaikan dari relaksasi kebijakan seperti pelaksanaan pelayanan perizinan dengan sistem terpadu satu pintu yang lebih optimal oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Kemudian, rencana relaksasi pada aturan uang muka pembelian rumah dengan cara kredit atau loan to value (LTV) di bidang properti oleh Otoritas Jasa Keuangan.

"Ke depannya kalau 'infrastucture spending' (pembiayaan sektor infrastruktur) jalan, konstruksi dan infrastruktur tentu ada potensi 'perform' (pertumbuhan) baik," tuturnya.

Ia mengatakan jika pendapatan domestik bruto naik lima % saja, maka pembiayaan infrastruktur dapat naik 20-25%. "Kuartal II dari ekonomi makro kita harapkan baik dan laba emiten juga baik," ujarnya.

Ia mengatakan jika pemerintah terus berupaya melakukan relaksasi kebijakan terkait investasi dan realisasi program pemerintahan terutama di sektor infrastruktur berjalan optimal akan mendorong perekonomian nasional.

Perekonomian juga akan didukung dengan dengan momentum puasa dan lebaran dengan daya beli konsumen yang meningkat.

Pemerintah juga mendorong pertumbuhan investasi seperti dengan berjalannya proyek pada tahap "grounbreaking", proyek power plan dan pembangunan Sejuta Rumah.

"Dengan adanya beberapa proyek berjalan, 'confidence' (kepercayaan) 'market' (pasar) dan investor juga meningkat," ujarnya.

Pihaknya juga memprediksikan prospek 2015 pertumbuhan laba bersih per lembar saham atau "earning per share growth" (EPS) sebesar 9,0-12,0 %, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar 2,5-3,0 %, Inflasi 5,25-6,25 %, produk domestik bruto sebesar 5-5,5 % dan BI rate 7-7,5 %.

Head of Equity PT MAMI Mohammad Anggun Indallah mengatakan pada awal 2015 pemerintah juga masih dalam proses berbenah diri dengan kepemimpinan baru.

"Di masa 3-6 bulan ini pemerintahan baru banyak yang harus dibereskan terlebih dahulu. Pembiayaan untuk belanja modal besar dan belum banyak terlaksana. Kalau di kuartal II mulai berjalan semuanya, dampaknya ke ekonomi baik," katanya.

Ia mengatakan para investor jangan menyimpulkan pertumbuhan ekonomi ke depan berdasarkan perlambatan ekonomi di kuartal I.

"Investor saham dan reksadana mindset-nya (pola pikir) harus jangka panjang. Ini transisi dari sesudah pemilihan umum, pemerintahan baru beres-beres. Investor harus benar-benar memperhatikan kinerja pemerintahan kita," ujarnya.

Sebelumnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis kembali ditutup tertekan sebesar 19,13 poin di tengah kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi domestik.

IHSG turun 19,13 poin atau 0,37 % menjadi 5.086,42. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak melemah 7,85 poin (0,89 %) ke level 869,44.

"Pemulihan ekonomi global yang masih melamban berdampak pada perekonomian Indonesia sehingga menjadi salah satu faktor pendorong investor masih melakukan aksi lepas saham," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada.

Dalam data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, tercatat pelaku pasar asing membukukan jual bersih (foreign net sell) sebesar Rp1,323 triliun pada Kamis (30/4) ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×