Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya menekan emisi karbon di sektor bangunan menjadi salah satu tantangan mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Konsumsi energi pada bangunan, termasuk penggunaan pendingin udara, turut menyumbang emisi gas rumah kaca.
Berdasarkan peta jalan pengembangan bangunan hijau pemerintah, sektor bangunan menyumbang sekitar 33% emisi gas rumah kaca Indonesia sepanjang tahun 2011–2021.
Melalui berbagai langkah efisiensi energi, pemerintah menargetkan pengurangan emisi sebesar 1,91 juta ton CO2e pada subsektor bangunan komersial hingga tahun 2030
Kondisi ini mendorong kebutuhan penggunaan teknologi yang lebih hemat energi. Terutama pada gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan bangunan komersial lainnya.
Assistant General Manager Consulting Sales Daikin Airconditioning Indonesia, Meli Nuraeni mengatakan, penerapan prinsip bangunan hijau membutuhkan pendekatan menyeluruh.Termasuk dalam pemilihan sistem pendingin udara.
Baca Juga: Menperin Sarmuji: Tambahan Gas Diharapkan Angkat Utilisasi Industri hingga 85%
“Penerapan prinsip bangunan hijau membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Termasuk dalam pemilihan sistem tata udara yang dapat mendukung efisiensi energi dan kinerja bangunan,” ujar Meli dalam keterangannya, Minggu (25/10).
Menurut Meli, setiap bangunan memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. Maka, pemilihan sistem pendingin udara harus mempertimbangkan kebutuhan spesifik proyek agar mampu memberikan kinerja optimal dalam jangka panjang.
Salah satu teknologi pada bangunan komersial adalah variable refrigerant volume (VRV). Teknologi ini memungkinkan kapasitas pendinginan disesuaikan kebutuhan masing-masing area. Sehingga penggunaan energi dapat lebih efisien.
Daikin sendiri memiliki sistem tata udara VRV 6X dan VRV 6A. Meli menilai, sertifikasi lingkungan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pengembang dan pengelola gedung dalam memilih teknologi pendukung bangunan hijau.
“Sertifikasi menjadi salah satu referensi yang dapat membantu para pemangku kepentingan dalam mempertimbangkan aspek lingkungan suatu produk,” kata Meli.
Ia menambahkan, pengembangan bangunan hijau membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Mulai dari konsultan, kontraktor, pengembang hingga pengelola gedung. Pertimbangan efisiensi energi juga perlu dilakukan sejak tahap perencanaan bangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














