kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

SBY: Meski perlu, tak mudah mengamandemen UUD 1945


Rabu, 11 Desember 2013 / 11:23 WIB
ILUSTRASI. Tiga saham yang bergabung dalam indeks LQ45 adalah ARTO, BRIS dan INDY. /pho KONTAN/Carolus Agus waluyo/16/10/2020.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan, perlu adanya perubahan Konstitusi dan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

Tujuannya, adalah untuk membuat sistem ketatanegaraan di negeri ini semakin lebih baik dan sejalan dengan kehendak rakyat.

Kendati demikian, ia mengaku tidak bisa membawa perubahan dan amandemen tersebut di masa pemerintahannya yang tinggal 11 bulan mendatang. SBY mengatakan, ia hanya bisa sebatas menggagas saja.

"Jangan melawan hukum alam. Perubahan dan pembaharuan perlu terjadi lagi di negeri ini. Perubahan itu perlu untuk kebaikan bersama," tutur SBY dalam pidato kunci Kongres Kebangsaan yang diadakan Forum Pemimpin Redaksi (Pemred), di Hotel Bidakara, Rabu (11/12).

Meskipun perlu perubahan, tapi SBY mengingatkan selalu ada penolakan atau resistensi dari kalangan tertentu yang merasa telah nyaman dengan kondisi saat ini.

Menurutnya, hal itu wajar, karena pada dasarnya sifat manusia itu ada dua yakni yang suka akan perubahan dan yang tidak suka perubahan alias anti perubahan.

Jadi, bila perubahan harus terjadi, presiden menyarankan agar semua perlawanan dan risiko yang timbul dari perubahan itu harus sudah dikalkulasi dan diukur.

Dengan demikian, tujuan utama perubahan untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama tetap berjalan dengan baik. "Jadi jangan gentar meskipun ada yang menentang," saran Presiden.

Perubahan yang baik, menurut SBY, adalah perubahan yang jauh dari kepentingan kekuasaan dan politik pihak tertentu saja.

Pasalnya, setiap pemimpin politik, pemimpin negara dan kekuasaan selalu datang dan pergi. Tapi hendaknya perubahan itu untuk kepentingan bangsa Indonesia dan seturut cita-cita pendiri bangsa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×