Reporter: Adinda Ade Mustami, Dendi Siswanto, Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai mulai menimbulkan efek rambatan serius terhadap perekonomian domestik.
Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor membuat tekanan kurs berpotensi memicu kenaikan harga di berbagai sektor dan memperluas inflasi.
Associate Professor Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Sahara, mengatakan tingginya kandungan impor pada industri dalam negeri menjadi titik rawan utama.
Menurut dia, sebagian besar industri masih bergantung pada barang setengah jadi impor atau intermediate goods.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Berpotensi Tingkatkan Risiko Utang Luar Negeri Indonesia
"Ketika biaya impor naik akibat pelemahan rupiah, kenaikan tersebut akan diteruskan ke sektor hilir melalui rantai pasok nasional," ujar Sahara.
Ia memaparkan, intensitas impor pada komoditas tepung terigu, pati, dan produk pati mencapai 63%. Sementara sektor barang logam memiliki intensitas impor 29%, sedangkan industri manufaktur, plastik, karet, dan serat buatan sekitar 23%.
Kondisi itu membuat dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan sektor tertentu, tetapi menyebar ke banyak lini ekonomi.
Berdasarkan simulasi CORE Indonesia, kombinasi depresiasi rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan mendorong kenaikan harga di 185 sektor ekonomi.
Sektor konstruksi diproyeksikan mengalami kenaikan harga hingga 3,56%. Kemudian sektor penyediaan makanan dan minuman naik 3,47%, sementara industri pakaian jadi berpotensi meningkat 3,35%.
Baca Juga: Waspada, Pelemahan Rupiah Bisa Picu Risiko Pembayaran Utang Luar Negeri RI
Meski persentase kenaikannya terlihat terbatas, Sahara mengingatkan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi bisa memperparah kondisi. Pelaku usaha dinilai berpotensi menaikkan harga lebih tinggi dari kenaikan biaya riil di lapangan.
Akibatnya, tekanan inflasi dapat menjadi lebih luas dibandingkan perhitungan ekonomi awal.
Untuk meredam dampak tersebut, Sahara meminta pemerintah segera memperkuat ketahanan industri domestik melalui substitusi impor, menjaga stabilitas nilai tukar, mempercepat diversifikasi energi, serta memastikan distribusi pangan berjalan efisien.
Namun hingga kini, pemerintah belum menyiapkan kebijakan khusus terkait pelemahan rupiah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan pasar global.
"Nanti kami pantau saja dulu, karena memang berbagai mata uang juga lemah akibat harga minyak masih terlalu tinggi," ujar Airlangga, Senin (18/5).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah fokus menjaga fundamental ekonomi agar tekanan pasar global dan arus keluar modal asing tidak mengganggu aktivitas ekonomi nasional.
"Mulai hari ini kami masuk ke pasar obligasi dengan lebih signifikan lagi," katanya.
Baca Juga: Ekonom: BI Harus Hawkish dan Naikkan Suku Bunga Acuan Demi Jaga Rupiah
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia juga memberi sinyal perubahan arah kebijakan moneter pada 2026. Bank sentral diperkirakan akan lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi dibanding dorongan pertumbuhan, termasuk membuka ruang kenaikan suku bunga acuan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut kenaikan suku bunga diperlukan untuk menahan arus modal keluar dan menjaga daya tarik aset domestik.
"Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Tapi kalau tidak mau outflow, suku bunga domestik harus naik," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.
Sebelumnya, BI telah menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hampir 100 basis poin guna menarik dana asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Kebijakan itu mulai menunjukkan hasil dengan aliran modal asing masuk mencapai sekitar Rp75 triliun sepanjang April hingga Mei 2026.
Baca Juga: Sudah All Out! BI Optimistis Rupiah Menguat ke Kisaran Rp 16.500 Mulai Juli 2026
Selain itu, BI juga memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying transaksi. Mulai Juni 2026, batas pembelian dolar tanpa underlying dipangkas dari US$ 50.000 menjadi US$ 25.000.
Meski tekanan masih berlangsung, BI optimistis rupiah akan menguat pada semester II-2026 setelah permintaan devisa musiman mereda.
Bank sentral tetap mempertahankan proyeksi rata-rata kurs rupiah tahun 2026 sesuai asumsi makro APBN, yakni di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan rata-rata sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













