kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Risiko taper tantrum buat Sri Mulyani memikirkan strategi pembiayaan yang tepat


Senin, 24 Mei 2021 / 18:32 WIB
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani


Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan dampak dari normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) akibat pemulihan ekonominya bagi pasar keuangan domestik. 

Ia mengungkapkan, hal tersebut tentu saja akan memberi dampak pada yield surat berharga baik domestik maupun internasional, sehingga pemerintah harus sigap dalam menghadapinya. 

“Strategi pembiayaan harus dipikirkan dalam kondisi ketidakpastian yang meningkat karena kondisi pasar keuangan global akan sangat dinamis,” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (24/5). 

Kondisi yang tidak pasti tersebut memang sudah berlangsung sejak Februari 2021 dan Maret 2021. Terlebih setelah inflasi AS lompat ke level tertinggi yang dikhawatirkan membuat Federal reserve melakukan pengetatan kebijakan moneter dan mengerek suku bunga. 

Dari sinilah adanya kekhawatiran arus modal keluar dari pasar keuangan domestik dan akan terjadi taper tantrum yang menyebabkan yield surat berharga terimbas. 

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi XI DPR RI Misbakhun mempertanyakan upaya pemerintah yang lebih nyata dalam menghadapi risiko ini. Menurutnya, pemerintah bisa menyesuaikan yield SUN agar tetap menarik di tengah kondisi yang mengkhawatirkan. 

Baca Juga: Pengusaha sebut pemerintah lebih baik menaikkan PPh ketimbang PPN

Apalagi, Bank Indonesia (BI) saat ini juga sudah menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,5%, yang merupakan suku bunga terendah sepanjang sejarah. Seharusnya, pemerintah juga sudah bisa untuk melakukan langkah yang berani. 

“Kenapa BI bisa turunkan signifikan suku bunga tetapi yield surat utang masih dalam kisaran yang setinggi 7%? Ini padahal sama-sama instrumen pembiayaan, hanya saja satu moneter dan satu fiskal,” katanya. 

Misbakhun juga mengingatkan, jangan sampai Indonesia telat dalam mengambil langah karena bila taper tantrum terjadi lebih cepat. Karena investor bisa berbondong-bondong cabut dari pasar keuangan dalam negeri dan akan mencari imbal hasil yang lebih menarik dari Indonesia. 

Selanjutnya: Akhirnya, Sri Mulyani buka suara soal tax amnesty jilid II

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×