Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi beras nasional pada 2025 meningkat 13,29% atau 4,07 juta ton, menegaskan penguatan kinerja sektor pangan.
Di saat yang sama, pemerintah menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan kelebihan pasokan di tengah kondisi surplus sejumlah komoditas.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian mengatakan kenaikan produksi terjadi di berbagai komoditas, meski produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah.
“Produktivitas kita masih di kisaran 4,5 ton–4,7 ton per hektare, sementara negara lain sudah bisa 10 ton per hektare. Ini yang belum kita kejar,” ujarnya dalam media briefing di Auditorium Badan Komunikasi RI, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Selain beras, peningkatan juga terjadi pada komoditas lain. Produksi jagung naik 6,74% menjadi sekitar 10,2 juta ton dengan luas panen 2,71 juta hektare. Produksi bawang merah mencapai 2,18 juta ton atau naik 4,82%, sementara cabai melonjak 16,72% menjadi 1,72 juta ton.
Baca Juga: Giant Sea Wall Segera Dibangun, Dimulai dari Pantura Jawa
Di sektor peternakan, produksi daging ayam tercatat 4,06 juta ton atau naik 3,99%, dan telur ayam mencapai 631 ribu ton atau meningkat 2,92%.
Sam menegaskan, dengan tren produksi yang meningkat, persoalan utama kini bukan lagi kekurangan pasokan.
“Sekarang ini bukan soal kekurangan bahan, melainkan bagaimana menyimpan dan mengelola kelebihan produksi,” katanya.
Ia juga menyoroti perbaikan kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2026 tercatat 125,35, naik dari 123,72 pada Maret 2025. Sementara PDB sektor pertanian 2025 tumbuh 5,74%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menyebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 9 dari 11 komoditas pangan sudah surplus.
Baca Juga: Modus Penipuan Haji dan Umrah: Waspada, 20 Laporan Tiap Hari Masuk Kemenhaj!
Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, serta minyak goreng.
“Artinya produksi kita melebihi kebutuhan. Ada ketersediaan, cadangan, dan carry over stock,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketersediaan beras juga diperkuat oleh stok pemerintah. Berdasarkan data Perum Bulog, stok beras per 18 April 2026 tercatat mencapai 4,91 juta ton.
Di sisi lain, secara tahunan stok beras diproyeksikan mencapai sekitar 16 juta ton hingga akhir 2026, dengan kebutuhan konsumsi sekitar 2,8 juta ton per bulan.
Hingga Juni 2026, stok beras masih berada di kisaran 15,8 juta ton. “Sampai bulan Juni kita masih punya 15,8 juta ton. Ini sangat aman,” kata Ketut.
Dengan kondisi surplus dan stok yang besar, pemerintah menilai fokus kebijakan kini perlu bergeser ke penguatan kapasitas penyimpanan dan distribusi agar kelebihan pasokan tidak menekan harga di pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












