Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak bisa dilepaskan dari terus mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri selama puluhan tahun.
Kondisi ini, menurutnya, membuat manfaat besar dari kekayaan Indonesia tidak sepenuhnya tinggal di dalam negeri.
Dalam pandangannya, ia bilang, persoalan Utama pelemahan rupiah bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan kebocoran besar dalam pengelolaan kekayaan negara yang terjadi secara sistematis dan berlangsung lama.
Baca Juga: Setelah BI Rate 5,75%, Seberapa Kuat Rupiah Bertahan hingga Akhir Tahun?
Prabowo menyebut, berdasarkan data perdagangan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diolah Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Indonesia sebenarnya mencatat surplus perdagangan sekitar US$ 436 miliar dalam 22 tahun terakhir.
Namun dalam periode yang sama, arus dana keluar mencapai sekitar US$ 343 miliar, sehingga manfaat bersih yang dinikmati di dalam negeri menjadi jauh lebih kecil.
Ia juga mengungkap adanya praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.
Praktik ini disebut ikut menggerus potensi penerimaan negara secara signifikan karena nilai ekspor tidak tercatat secara penuh.
Dari berbagai kebocoran tersebut, Prabowo mengklaim total potensi kehilangan kekayaan negara mencapai sekitar US$ 908 miliar atau setara kurang lebih Rp 15.000 triliun dalam 34 tahun terakhir.
Sementara itu, kebocoran yang terjadi setiap tahun diperkirakan mencapai sekitar Rp 2.500 triliun.
Untuk menutup kebocoran tersebut, pemerintah disebut memperkuat pengawasan perdagangan, memperbaiki pencatatan data ekspor-impor, serta menindak praktik manipulasi laporan nilai ekspor.
Baca Juga: Meski Didukung MSCI dan BI, Rupiah Masih Tertekan Penguatan Dolar AS
Langkah ini diarahkan agar aliran kekayaan nasional bisa lebih banyak bertahan di dalam negeri dan berdampak langsung pada kesejahteraan publik.
Prabowo menegaskan bahwa perbaikan ini penting agar kapasitas fiskal negara meningkat dan ruang anggaran untuk sektor publik bisa lebih longgar.
“Kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang? Karena uangnya tidak ada, diambil terus. Kebocoran yang kami hitung sekitar R p2.500 triliun setiap tahun dan ini sedang saya perbaiki semua,” ujar Prabowo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














