Sumber: Kompas.com | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden RI Prabowo Subianto memanggil sejumlah anggota Kabinet Merah Putih untuk rapat soal ekonomi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fundamental ekonomi masih kuat.
"Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga,” kata Airlangga dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: DJP Klarifikasi Pajak Digital 9 November 2026, Transfer Uang Tak Otomatis Kena PPN
Fundamental ekonomi pada dasarnya merupakan sekumpulan indikator makroekonomi (skala nasional) yang digunakan untuk mengukur kesehatan dan daya tahan suatu negara.
Para menteri melaporkan kepada Prabowo bahwa sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan positif.
Dalam rapat tersebut, hadir Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wamen ESDM Yuliot Tanjung, CEO Danantara Rosan Roeslani, dan Dirut Pertamina Simon Aloysius.
“Indeks Purchasing Manager, indeks Indonesia di sektor manufaktur sudah masuk ke level ekspansi di 54. Itu meningkat dari bulan yang lalu 52,4 dan ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret yang lalu, Maret 2024. Jadi ini level ekspansi yang tinggi,” ujar Airlangga.
Baca Juga: Lapor Prabowo, Menko Airlangga: PMI Manufaktur RI Tertinggi Sejak Maret 2024
Surplus neraca perdagangan
Dari sisi perdagangan, Airlangga menyebut Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan pada September 2026 sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Capaian tersebut, kata dia, ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar 5,67 miliar dolar AS, meskipun terdapat defisit perdagangan migas sebesar 2,31 miliar dolar AS.
Secara kumulatif, Airlangga mengatakan, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026.
“Dari segi bulan Januari sampai September 2026, ini surplusnya neraca perdagangan kita 10,61 miliar. Dipicu oleh surplus non-migas sebesar 34,21 miliar dan walaupun defisit migas mencapai 23,6 miliar,” tuturnya.
Baca Juga: Terus Menyusut, Ekonom Proyeksi Surplus Neraca Dagang US$ 18 Miliar di Akhir 2026
Ekspor naik, inflasi masih di bawah 2,5
Lalu, Airlangga mengatakan kinerja ekspor nasional juga menunjukkan pertumbuhan positif.
“Nah sedangkan dari ekspor kita lihat secara total naik 5,58 persen year on year. Jadi tahun ini Januari-September 221,23 miliar (dolar AS). Kemudian dari segi non-migas ekspornya 212,27 (dolar AS),” kata Airlangga.
Di sisi stabilitas harga, Airlangga mengatakan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Adapun inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,4 persen.
Baca Juga: Batas Penghasilan Bebas Pajak 2027 Belum Final, Ini Penjelasan Airlangga
“Jadi kalau year to date 2,4 persen, juga ini masih dalam range 2,5 plus minus 1 persen. Terutama kalau kita lihat inflasi ini sebabkan oleh volatile food, makanan minuman, cabai rawit, ikan segar. Kemudian juga didukung oleh inflasi di bidang transportasi. Termasuk angkutan udara namun kita punya program untuk diskon menjelang nataru. Jadi kenaikan itu nanti kita akan kompensasi dengan diskon,” beber Airlangga.
Sementara itu, Airlangga menjelaskan bahwa berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga daya tahan masyarakat sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Dia pun memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat sampai November 2026 ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














