kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.848   39,00   0,23%
  • IDX 8.123   -112,62   -1,37%
  • KOMPAS100 1.142   -14,73   -1,27%
  • LQ45 823   -11,41   -1,37%
  • ISSI 290   -3,03   -1,04%
  • IDX30 434   -5,84   -1,33%
  • IDXHIDIV20 522   -5,54   -1,05%
  • IDX80 128   -1,28   -0,99%
  • IDXV30 143   -0,50   -0,35%
  • IDXQ30 139   -2,26   -1,60%

'PPI dan Demokrat, tarik napas dulu biar segar'


Kamis, 24 Oktober 2013 / 13:23 WIB
'PPI dan Demokrat, tarik napas dulu biar segar'
ILUSTRASI. Obligasi


Reporter: Dyah Megasari |

JAKARTA. Politisi Partai Demokrat Gede Pasek Suardika meminta para sahabatnya di Partai Demokrat dan organisasi masyarakat (ormas) Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) untuk menahan diri agar suasana dapat lebih tenang. Menurut Pasek, hubungan Partai Demokrat dan PPI tak perlu terus memanas bila dapat saling membangun suasana kekeluargaan.

"Ini saya kira sudah di luar konteks. Sahabat saya di PPI dan di Partai Demokrat tarik napas dulu, minum air putih dulu, biar segar," kata Pasek di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (24/10/2013).

Nama Pasek tertulis dalam sebuah pesan yang diduga dikirim oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk semua pengurus partainya. Dalam pesan tersebut, secara khusus SBY disebut menuliskan Anas sebagai dalang penghancur Partai Demokrat dan meminta Gede Pasek Suardika yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PPI diperiksa oleh Dewan Kehormatan.

Menanggapi itu, Pasek enggan berspekulasi karena mengaku belum mengetahui isi pesan tersebut. Meski demikian, Pasek menyatakan siap memenuhi panggilan jika Dewan Kehormatan Partai Demokrat memanggil dirinya.

"Satu saja yang saya tidak siap, yaitu dipanggil Tuhan karena anak saya masih kecil. Kalau dipanggil Wanhor (Dewan Kehormatan) berarti sebuah kehormatan," ujarnya.

Mantan Ketua komisi III Dewan Perwakilan Rakyat ini tidak takut dipanggil oleh Wanhor karena merasa tak berbuat salah atau mencoreng nama baik Partai Demokrat. Dia mengakui, keputusan ikut terlibat menjadi pengurus PPI merupakan hak berorganisasi yang dilindungi oleh aturan partainya.

"Etika moral itu diatur dalam konstitusi partai. Saya kira sampai saat ini saya masih jalani itu (sesuai aturan). Teman-teman lain yang melanggar hukum tidak diapa-apakan," tandasnya. (Indra Akuntono/Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×