kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

Polemik guru PNS kabur dari daerah terpencil


Selasa, 30 November 2021 / 06:55 WIB


Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pendidikan di daerah terpencil masih menjadi masalah utama pendidikan di Indonesia.

Salah satu penyebabnya adalah minimnya tenaga pengajar di wilayah terpencil dan terluar itu. Termasuk bagi guru yang telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Banyak guru tidak mau ditetapkan di daerah terpencil, padahal status mereka PNS yang seharusnya bisa ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia," ujar Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (29/11).

Indra bilang sebelumnya terdapat program guru garis depan saat masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi. Program tersebut mengangkat guru honorer yang berada di daerah terpencil menjadi PNS.

Baca Juga: Guru dan Literasi Keuangan

Namun, ketika guru tersebut telah menjadi PNS, Indra bilang justru pergi mengajar di kota. Hal itu menunjukkan bahwa masalah kesejahteraan bukan menjadi yang utama bagi guru di daerah terpencil.

"Yang harus dibenahi harusnya tata kelolanya dulu, manajemen sumber daya manusianya dulu," terang Indra.

Indra bilang rasio guru di Indonesia sudah termasuk yang terbanyak. Berdasarkan data Bank Dunia, rasio guru di Indonesia sebesar 1 banding 14.

Namun, guru tersebut masih banyak yang berada di kota. Sehingga terjadi ketimpangan antara guru di kota dan di daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×