kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

PMI Manufaktur Turun ke 50,1, Ini Jadi Sinyal Dunia Usaha Mulai Tahan Produksi


Rabu, 01 April 2026 / 18:42 WIB
PMI Manufaktur Turun ke 50,1, Ini Jadi Sinyal Dunia Usaha Mulai Tahan Produksi
ILUSTRASI. Pabrik Manufaktur GAC Resmi Beroperasi, Indomobil Group Perkuat Investasi lewat National Assemblers (Dok/PT National Assemblers (NA))


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perlambatan signifikan pada akhir kuartal I-2026. 

Indeks PMI (Purchasing Manager's Index) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari 53,8 pada Februari, menandakan kondisi operasional yang nyaris stagnan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, meski masih berada di zona ekspansi, level indeks tersebut sudah berada di ambang stagnasi dan sangat rentan terhadap tekanan eksternal. 

Baca Juga: Kinerja Manufaktur Melemah, Ekonom Dorong Pemerintah Jaga Pasokan dan Daya beli

Rizal menyoroti kenaikan harga energi dan ketidakpastian global sebagai faktor utama yang dapat menekan kinerja industri ke depan.

Menurutnya, dalam situasi ini pemerintah perlu memprioritaskan penurunan biaya produksi, terutama dari sisi energi dan logistik. Stabilitas harga energi, khususnya gas untuk industri, menjadi krusial agar pelaku usaha tidak menahan produksi maupun menurunkan tingkat utilisasi kapasitas.

Selain itu, Rizal menekankan pentingnya menjaga likuiditas dan akses pembiayaan bagi sektor industri. Di tengah ketidakpastian, dunia usaha cenderung menunda ekspansi, sehingga diperlukan dukungan seperti restrukturisasi kredit, insentif suku bunga, hingga skema penjaminan untuk memastikan aktivitas produksi tetap berjalan.

"Tanpa intervensi ini, perlambatan PMI berisiko berlanjut menjadi kontraksi riil di sektor manufaktur," ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Di sisi lain, penguatan permintaan domestik juga dinilai menjadi kunci. Ketika kinerja ekspor melemah, konsumsi dalam negeri harus mampu menjadi penopang utama, salah satunya melalui belanja pemerintah yang memiliki efek pengganda tinggi.

Rizal juga menekankan pentingnya kepastian dan konsistensi kebijakan, terutama di sektor industri dan investasi. Hal ini diperlukan agar tidak menambah ketidakpastian baru yang dapat semakin menahan langkah ekspansi pelaku usaha di tengah tekanan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×