kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.792   -28,00   -0,17%
  • IDX 7.994   71,43   0,90%
  • KOMPAS100 1.119   10,98   0,99%
  • LQ45 816   9,57   1,19%
  • ISSI 282   3,99   1,43%
  • IDX30 427   6,29   1,49%
  • IDXHIDIV20 512   6,62   1,31%
  • IDX80 125   1,77   1,43%
  • IDXV30 139   3,38   2,50%
  • IDXQ30 139   1,52   1,11%

PMI Manufaktur RI Ekspansif 6 Bulan, Industri Diminta Waspadai Faktor Musiman


Selasa, 03 Februari 2026 / 08:31 WIB
PMI Manufaktur RI Ekspansif 6 Bulan, Industri Diminta Waspadai Faktor Musiman
ILUSTRASI. Manufacturing Indonesia 2019 (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sektor manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Namun, penguatan ini belum sepenuhnya mencerminkan solidnya fundamental industri nasional.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Januari 2026 tercatat di level 52,6, naik dari 51,2 pada Desember 2025. Capaian ini menempatkan PMI di atas ambang netral 50 secara konsisten sejak paruh kedua 2025.

S&P Global menilai kenaikan PMI mencerminkan perbaikan kondisi bisnis manufaktur dengan laju pertumbuhan yang moderat. Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menyebut ekspansi masih ditopang permintaan domestik, sementara kinerja ekspor belum pulih.

Baca Juga: Menperin: Ekspansi PMI Manufaktur Sebagai Second Indicator Positif Bagi Industri

“Ekspansi terutama digerakkan pasar domestik,” ujarnya kemarin.

Meski demikian, pelaku industri menilai kenaikan PMI belum sejalan dengan penguatan struktur industri. Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Harsono Gunawan mengatakan lonjakan PMI awal tahun lebih dipicu pemenuhan pesanan domestik dari bulan sebelumnya, bukan pertumbuhan baru.

“Ekspor masih lemah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kembali terganggunya pasokan gas bumi di Jawa Barat yang menghambat operasional, serta belum terlihat dorongan konsumsi yang kuat menjelang Ramadan dan Lebaran.

Senada, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi mengingatkan agar penguatan permintaan domestik diimbangi perbaikan ekspor. Pasalnya, ekspor manufaktur tercatat mengalami kontraksi selama 14 bulan terakhir.

“Risiko perlambatan tetap ada,” ujarnya.

Baca Juga: PMI Manufaktur RI Diproyeksi Tetap Ekspansif hingga Awal Kuartal I-2026

Dari sisi analis, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai PMI lebih mencerminkan sentimen jangka pendek. Menurutnya, kenaikan indeks pada awal tahun kerap dipengaruhi faktor musiman jelang Ramadan dan Lebaran.

“Ini sinyal perbaikan, tapi belum fundamental,” katanya.

Rizal menambahkan, penguatan manufaktur yang berkelanjutan biasanya diikuti peningkatan tenaga kerja, investasi, dan output lintas subsektor. Tanpa dukungan tersebut, kontribusi manufaktur ke ekonomi nasional diperkirakan tetap moderat.

Sementara itu, pemerintah melihat perkembangan PMI sebagai sinyal positif. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menegaskan pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha dan investasi.

“Kami fokus mempercepat penyelesaian hambatan usaha,” ujarnya.

Selanjutnya: Trump Luncurkan Cadangan Mineral Strategis US$12 Miliar untuk Hadapi Dominasi China

Menarik Dibaca: BMKG: Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut, Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×