kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

PKH kerap dibelanjakan untuk rokok, Kemsos ajak masyarakat sadar bahaya merokok


Senin, 30 Juli 2018 / 21:07 WIB
PKH kerap dibelanjakan untuk rokok, Kemsos ajak masyarakat sadar bahaya merokok
ILUSTRASI. Mensos & BNI Perkenalkan e-Warong KUBE

Reporter: Arsy Ani Sucianingsih | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rokok menjadi komoditi yang memberi pengaruh besar pada kemiskinan. Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat untuk sadar akan kesehatan dan efek merokok.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan, edukasi tentang bahaya merokok perlu dilakukan terutama untuk masyarakat miskin di pedesaan. Menurutnya, di Kemsos, sudah ada program family development dimana salah satunya menjaga kesehatan dan yang sering dilakukan edukasi tentang bahaya merokok.


“Presiden juga sering menyampaikan di berbagai kesempatan, bahwa uang Program Keluarga Harapa (PKH ) bukan untuk dibelikan rokok. Pada pendampingan juga diingatkan agar ibu-ibu itu mengingatkan kepada para suaminya yang perokok untuk tidak merokok lagi,” kata Harry saat ditemui di Jakarta, Senin ( 30/7).

Jika ada masyarakat yang membeli rokok dengan uang bantuan program keluarga harapan (PKH), maka Kartu Kesejahteraan Sosial (KKS)-nya akan dicabut.

Menurut Harry, pernah ada masyarakat yang menggunakan uang bantuan pemerintah itu untuk membeli rokok. Hal itu ditanggapi serius oleh Kemsos dengan terus menerus melakukan pengawasan sembari menyadarkan masyarakat dengan risiko penyakit yang akan timbul jika merokok.

“Jika mendapatkan hal seperti tiu, kita tegur dulu, yang penting jangan uang PKH buat beli rokok. Kami pernah mendapatkan seperti itu,” kata dia.

Pendampingan yang dilakukan secara intensif itu, dilakukan setiap 20 orang betemu dalam kelompok untuk melakukan dialog dan memberikan motivasi untuk pentingnya gizi menjaga kesehatan termasuk pendidikan.

Kemsos akan mengubah perilaku msayarakat tersebut dengan kesadaran, bukan dipaksa dan tanpa iming-iming.

“Secara pemaksaan sudah pernah dilakukan tapi sekarang kita lakukan untuk menyesuaikan dan mereka juga manusia yang bisa berfikir,” tambahnya.

Menurut Harry, dengan sistem pendampingan secara masif tersebut masyarakat secara sadar akan berhenti merokok karena bahya kesehatannya.

Seperti di ketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) rokok ada pada peringkat kedua setelah beras atau sebesar 11,07% pada perkotaan dan 10,21% pada pedesaan. Data ini masih kalah dengan kebutuhan daging ayam ras yang hanya 3,55% untuk perkotaan dan pedesaan 2,08%.




TERBARU

×