kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Diprediksi Melambat


Rabu, 11 Januari 2023 / 19:26 WIB
ILUSTRASI. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal IV-2022 berpotensi melambat dari kuartal sebelumnya.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal IV-2022 berpotensi melambat dari kuartal sebelumnya.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal IV-2022 di kisaran 5% yoy. Ini melambat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal III-2022 yang sebesar 5,39% yoy.

Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga seiring dengan perlambatan kinerja sejumlah indikator konsumsi pada periode tersebut.

Sebut saja Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kuartal IV-2022 sebesar 119,7, atau lebih rendah dari IKK pada kuartal III-2022 yang sebesar 121,7.

Kemudian Indeks Penjualan Riil (IPR) pada kuartal IV-2022 tumbuh 1,7% yoy, melambat dari pertumbuhan kuartal III-2022 yang sebesar 5,2% yoy.

Baca Juga: Ekonom: Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Kuartal IV 2022 Mungkin Melambat

Meski melambat, Josua yakin konsumsi masih terjaga. Terbukti, IKK tetap berada di zona optimistis atau zona di atas 100.

"Jadi, ini mengindikasikan optimisme konsumen masih terjaga, sehingga mendorong laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga," jelas Josua kepada Kontan.co.id, Rabu (11/1).

Josua memperkirakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada tahun 2023 akan berada di kisaran 4,5% yoy hingga 4,6% yoy.

Ini juga lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan konsumsi rumah tangga di sepanjang 2022 yang sebesar 5,1% yoy.

Ada beberapa sebab. Pertama, transmisi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) terhadap suku bunga perbankan. Ini akan menggerus belanja masyarakat.

Kedua, beberapa sektor industri padat karya nasional diyakini akan menghadapi tantangan yang berat di tengah ketdiakpastian global.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan masih terjadi, sehingga masyarakat kehilangan sumber penghasilan dan daya belinya terganggu.

Ketiga, harga komoditas diperkirakan menurun pada semester II-2023. Ini akan memengaruhi pendapatan masyarakat yang berada di wilayah provinsi penghasil komoditas.

Baca Juga: Kejar Pertumbuhan Ekonomi, China Harus Rangsang Konsumsi Rumah Tangga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×