kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Penyaluran Subsidi LPG dan BBM Tak Berdampak Signifikan Kurangi Angka Kemiskinan


Rabu, 08 Maret 2023 / 15:09 WIB
ILUSTRASI. Pekerja menata tabung gas LPG 3 Kg di sebuah agen di Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/01/2023). KONTAN/Baihaki/31/01/2023


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemberian subsidi LPG 3 kg dan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) relatif tidak tepat sasaran. Sehingga dampaknya tidak signifikan untuk mengurangi angka kemiskinan dan ketimpangan di masyarakat.  

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Suprayoga Hadi mengatakan, hanya subsidi listrik saja yang penyalurannya tepat sasaran, meski dampaknya kurang dirasakan oleh masyarakat.

“Dibandingkan dengan program lain untuk mengatasi kemiskinan, ternyata subsidi LPG dan BBM relatif tidak tepat sasaran. Kecuali listrik,” tutur Suprayoga dalam diskusi bersama Indef, Rabu (8/3).

Sementara itu, kelompok bansos seperti PKH, bantuan berupa uang tunai, dan Bantuan Pangan Non Tunai cenderung lebih berdampak pada pengurangan ketimpangan. Termasuk bantuan produktif usaha (BPUM) juga cenderung tepat sasaran dan berdampak pada ketimpangan.

Baca Juga: Bantuan Subsidi LPG Secara Langsung ke Penerima Manfaat Dinilai Lebih Tepat Sasaran

Adapun Dia juga menyampaikan, hanya 33,1% subsidi energi yang dinikmati oleh keluarga miskin. Sisanya, subsidi energi termasuk untuk LPG dan BBM, lebih banyak dinikmati keluarga kaya.

Padahal menurutnya, pemerintah sudah menggelontorkan dana sebesar Rp 390 triliun dengan alokasi sebesar 42% untuk subsidi energi. Angka itu didapat berdasarkan data dari BPS yang diolah TNP2K pada tahun 2021.

Lebih lanjut, Suprayoga mengatakan, saat ini masyarakat saat ini lebih banyak membutuhkan penerimaan dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok. Untuk itu, penyaluran subsidi kurang berdampak untuk mengurangi kemiskinan ekstrem.

“Sementara bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau Kartu Indonesia Pintar lebih berdampak mengurangi kemiskinan,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×