kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Pemerintah kekurangan rekanan proyek


Kamis, 15 Desember 2011 / 10:07 WIB
Pemerintah kekurangan rekanan proyek
ILUSTRASI. WHO akan bertemu dua minggu lebih awal pada Kamis (14/1) untuk membahas varian baru virus corona.


Reporter: Uji Agung Santosa | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pemerintah rupanya kekurangan rekanan proyek. Seorang pejabat yang merencanakan dan mengelola anggaran di sebuah kementerian dan lembaga (K/L) membisikkan, pemerintah sering sekali kesulitan menemukan rekanan proyek dan kegiatan yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sumber tadi mengungkapkan, jumlah rekanan yang masuk dan mengikuti tender tidak sebanding dengan jumlah proyek yang ditawarkan. “Biasanya kita sulit mencari rekanan untuk proyek yang dipecah-pecah, apalagi minimal penawar adalah tiga perusahaan,” kata pejabat tersebut kepada KONTAN.

Apalagi, sumber itu mengatakan, setiap tahun anggaran proyek pemerintah terus meningkat. Ini artinya, pemerintah semakin membutuhkan banyak rekanan.

Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Agus Suprijanto mengakui informasi tersebut. “Pemerintah kekurangan rekanan karena banyak sekali lelang di Indonesia. Rekanan juga tidak bisa menawar di banyak tempat,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini belanja pemerintah pusat dalam APBN-P 2011 sebesar Rp 908,24 triliun dengan satuan kerja (satker) mencapai 23.000 di seluruh Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×