kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.145   31,00   0,18%
  • IDX 7.359   -99,01   -1,33%
  • KOMPAS100 1.013   -16,22   -1,58%
  • LQ45 735   -11,31   -1,51%
  • ISSI 265   -3,19   -1,19%
  • IDX30 396   -4,62   -1,15%
  • IDXHIDIV20 485   -5,54   -1,13%
  • IDX80 114   -1,53   -1,32%
  • IDXV30 134   -0,86   -0,64%
  • IDXQ30 128   -1,84   -1,42%

Patrialis: Dapat tugas tambahan, UU KPK harus direvisi


Jumat, 27 Agustus 2010 / 14:53 WIB


Reporter: Hans Henricus | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pemerintah mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menindaklanjuti laporan dugaan pencucian uang dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sebab, PPATK tak bisa melakukan penyidikan.

Namun, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengatakan, penambahan tugas KPK itu harus melalui revisi undang-undang. Sebab, dia mengatakan KPK hanya berwenang mengusut dugaan korupsi. "Enggak boleh kita di luar itu," katanya usai menyampaikan dua nama calon ketua KPK kepada Presiden di kantor Kepresidenan, Jumat (27/8).

Patrialis menepis anggapan bila pemerintah tidak setuju KPK memiliki kewenangan menyidik laporan PPATK. "Setuju saja, biar KPK lebih mantap," ujar politikus Partai Amanat Nasional itu.

Seperti diketahui, pemerintah dan DPR telah sepakat menambah jumlah lembaga yang bisa mengusut laporan PPATK. Selain KPK, laporan PPATK itu bisa ditindaklanjuti oleh kepolisia, kejaksaan, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Badan Narkotika Nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×