kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Pakar IT: Iklan di Mesin Pencarian jadi Sarana Penipu Tebar Link Phishing


Sabtu, 21 Februari 2026 / 20:59 WIB
Diperbarui Sabtu, 21 Februari 2026 / 22:12 WIB
Pakar IT: Iklan di Mesin Pencarian jadi Sarana Penipu Tebar Link Phishing
ILUSTRASI. (KONTAN/Muradi)


Reporter: Tim KONTAN | Editor: Indah Sulistyorini

KONTAN.CO.ID - Jakarta, 21 Februari 2026 -  Keluhan masyarakat kehilangan dana setelah tanpa sadar mengeklik link palsu perbankan atau phishing, mencuat di media sosial. Jebakan link palsu itu, kemudian membuat nasabah membagikan data rahasia bank miliknya, yang menjadi jalan bagi pelaku menguras saldo milik nasabah.

Dosen Psikologi Media Universitas Indonesia (UI), Laras Sekarasih menyampaikan, maraknya penipuan dengan modus phishing dapat terjadi karena pelaku kerap menyasar kelemahan psikologis korban. Jadi celah kejahatan itu bukan semata-mata akibat adanya kesempatan dan celah teknologi di industri jasa keuangan, khususnya perbankan.

“Mungkin kemajuan teknologi juga mempermudah pelaku melancarkan aksi. Tetapi, di sini yang dieksploitasi adalah keterbatasan kognitif atau kemampuan berpikir nasabah maupun konsumen. Di sini bukan keterbatasan IQ tetapi bagaimana kita memproses informasi itu tidak optimal ketika (dalam kondisi) tertekan,” kata Laras ketika dihubungi, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, keadaan tertekan kerap diciptakan pelaku saat melancarkan phishing. Contohnya, pelaku kerap berpura-pura menghubungi korban dan mengabarkan adanya peristiwa genting.

Korban yang menerima kabar tersebut dapat terbawa modus apabila tidak konsentrasi. Jika hal itu terjadi, lantas pelaku menggiring korban untuk membagikan beberapa informasi rahasia dan sensitif.

“(Korban) diberikan impresi bahwa keputusannya harus diberikan sekarang. Misalkan korban digiring memberikan nama, nama ibu kandung, dan NIK dengan dalih untuk melindungi nasabah,” kata dia.

Anggota Laboratorium Psikologi Ekonomi, Konsumen, dan Komputasi itu menyebutkan bahwa dalam keadaan tersebut yang dieksploitasi atau dimanipulasi adalah keterbatasan kita sendiri.

“Bisa terjadi kepada semua orang. Pada situasi di mana kita dipaksa atau merasa dipaksa membuat keputusan terburu-buru dan cepat dengan informasi terbatas semua orang akan rentan penipuan,” ungkap Laras.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, nasabah diimbau harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap pihak asing yang menghubunginya. Salah satu kebiasaan yang penting dilakukan adalah crosscheck informasi kepada pihak berwenang.

“Misalkan pelaku menghubungi dan bilang ada yang membobol rekening Anda maka kita bisa mulai berprasangka buruk dan segera tutup telponnya. Setelah itu, cek kepada CS resmi,” kata dia.

Terpisah, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan pada kejahatan penipuan dengan modus phishing. Menurut Alfons, berdasarkan pengakuan dari beberapa korban phishing, pintu awal bencana salah satunya adalah ketika korban hendak masuk ke website tertentu dan tidak mengecek dengan cermat alamat yang dituju ketika menge-klik link dari mesin pencarian. Karena terbukti banyak hasil pencarian dan iklan di mesin pencarian yang mengarahkan ke situs phishing.

Dia pun meminta masyarakat menggunakan antivirus dan pastikan tidak ada malware yang bisa mengalihkan akses internet banking. Hal ini adalah kebiasaan personal yang penting, meskipun perbankan sudah membangun sistem keamanan mereka di aplikasi internet banking.

“Ini fenomena menarik dan menunjukkan kalau pameo ‘security is a process’ itu benar. Perlindungan yang hari ini aman tidak menjamin aman besok atau bulan depan, selalu waspada dan jangan pernah overconfidence dengan security,” ujar dia.

Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan akses internet banking sudah sesuai dengan alamat resmi dan bukan situs phishing.

“Jangan mudah percaya kalau Anda dihubungi oleh siapa pun yg mengaku CS bank atau kepala cabang bank sekalipun. Apalagi minta OTP Appli 1 atau Appli 2,” jelas Alfons.

Dia juga mengatakan masyarakat sebaiknya menyimpan alamat internet banking di Favorites dan pastikan tidak ada add-on yg tidak dikenal terpasang pada peramban yang digunakan untuk internet banking.

Selanjutnya: Waskita Beton (WSBP) Raih Kontrak Pembangunan Laboratorium L-SSIT Universitas Udayana

Menarik Dibaca: Waspada Kulit Dehidrasi Saat Puasa, Kenali Tanda dan Cara Mencegahnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×