kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.195   10,00   0,05%
  • IDX 5.196   -70,35   -1,34%
  • KOMPAS100 672   -10,35   -1,52%
  • LQ45 528   -4,96   -0,93%
  • ISSI 175   -4,09   -2,28%
  • IDX30 297   -2,82   -0,94%
  • IDXHIDIV20 396   -3,41   -0,85%
  • IDX80 77   -1,20   -1,53%
  • IDXV30 110   -1,58   -1,42%
  • IDXQ30 100   -0,77   -0,76%

Pakar epidemiologi: Setop rapid test, sebaiknya perbanyak tes PCR


Kamis, 02 Juli 2020 / 12:43 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi Rapid Test. KONTAN/Baihaki/17/6/2020


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Meski tidak masuk dalam pendataan pemerintah pusat, tetapi datanya disimpan oleh masing-masing daerah. "Rapid test datanya disimpan daerah," ungkap Yuri.

Yuri menjelaskan, sesuai standar WHO, pemeriksaan spesimen harus menggunakan antigen. Karenanya, pemerintah menggunakan dua metode pengetesan yakni Real Time-PCR dan tes cepat molekuler (TCM) untuk memastikan apakah individu telah terjangkit Covid-19 atau tidak.

Baca Juga: UPDATE corona di Jakarta 1 Juli 2020, positif 11.482, sembuh 6.680, meninggal 644

"Sedangkan rapid test, yang berbasis serologi darah, tidak masuk dalam standar tersebut," tutur Yuri.

Pada Senin (29/6/2020) lalu, Yuri mengungkapkan sudah ada 782.383 spesimen terduga Covid-19 yang diperiksa secara nasional. Namun, jika dirata-rata, hingga saat ini Indonesia telah memeriksa 2.779 spesimen Covid-19 per 1 juta penduduk.

Yuri lantas membandingkan angka ini dengan capaian pemeriksaan spesimen di Jepang. Dia mengungkapkan, hingga saat ini Jepang telah memeriksa 3.484 spesimen per 1 juta penduduk.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ahli Epidemiologi: Stop Rapid Test, Fokus Perbanyak Tes PCR"
Penulis : Dian Erika Nugraheny
Editor : Bayu Galih

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×