kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.927   18,00   0,10%
  • IDX 5.943   17,05   0,29%
  • KOMPAS100 770   4,91   0,64%
  • LQ45 595   5,40   0,92%
  • ISSI 205   -0,19   -0,09%
  • IDX30 331   2,96   0,90%
  • IDXHIDIV20 424   2,54   0,60%
  • IDX80 88   0,63   0,72%
  • IDXV30 116   0,69   0,59%
  • IDXQ30 108   0,68   0,63%

Nilai Tukar Petani Naik 1,49%, Biaya Produksi dan Kemarau Masih Menekan Petani


Rabu, 14 Oktober 2026 / 17:23 WIB
Nilai Tukar Petani Naik 1,49%, Biaya Produksi dan Kemarau Masih Menekan Petani
ILUSTRASI. Nilai Tukar Petani (ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin)


Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2026 meningkat 1,49% menjadi 131,11 dari 129,19 pada Agustus 2026. Namun, kenaikan indikator tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kesejahteraan petani karena mereka masih menghadapi kenaikan biaya produksi, dampak kemarau, dan keterbatasan akses pasar.

BPS mencatat indeks harga yang diterima petani pada September 2026 naik 1,93%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani meningkat 0,44%. Meski NTP nasional naik, Serikat Petani Indonesia (SPI) menilai petani masih menghadapi tekanan biaya pupuk, bahan bakar, air, dan tenaga kerja serta dampak perubahan cuaca yang memengaruhi produksi.

Di Jawa Timur, Kepala Departemen Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan, melaporkan harga gabah berada di kisaran Rp 8.200 per kilogram dan jagung sekitar Rp 7.000–Rp 7.200 per kilogram. Namun, kenaikan harga tersebut diikuti peningkatan biaya operasional.

Baca Juga: Ombudsman Soroti Antrean BBM di 11 Provinsi, Desak Evaluasi Distribusi

“Biaya operasional petani meningkat sekitar 20% akibat kondisi El Niño dan bertambahnya kebutuhan air untuk mempertahankan produksi,” ujar Kusnan dalam keterangan resmi, Rabu (14/10).

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) SPI Riau, Misngadi, melaporkan harga singkong di tingkat lahan berkisar Rp 1.700–Rp 2.000 per kilogram. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga sekitar Rp 2.500 per kilogram apabila dijual ke pasar.

Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa akses pemasaran turut menentukan pendapatan yang diterima petani. Kenaikan harga komoditas di tingkat nasional belum tentu dirasakan secara merata oleh petani yang bergantung pada perantara.

Biaya Produksi Hortikultura Meningkat

Di Jawa Timur, Kepala Departemen Agroekologi dan Kawasan Daulat Pangan Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan melaporkan, harga cabai naik dari sekitar Rp 24.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram. Sebaliknya, harga bawang merah turun dari Rp 35.000 menjadi Rp 25.000 per kilogram.

Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) SPI Bogor, Pandi, melaporkan harga timun berada di kisaran Rp 5.000 per kilogram dan buncis sekitar Rp 12.000 per kilogram. Sementara itu, petani anggota SPI di Bogor, Putro, menyebut kondisi pertanian mulai membaik setelah hujan kembali turun.

Baca Juga: 91 SPPG Kena Suspend, MBG Watch Soroti Lemahnya Pengawasan BGN

Namun, selama kemarau, petani perlu mengeluarkan biaya tambahan guna mengoperasikan pompa air. Putro juga menyoroti keterbatasan dukungan bahan bakar dan panjangnya rantai pemasaran hasil pertanian.

“Selama kemarau, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan pompa air. Kenaikan harga di tingkat konsumen juga tidak sepenuhnya dirasakan petani karena adanya perantara dalam pemasaran,” ujar Putro.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan harga hortikultura belum tentu meningkatkan keuntungan apabila biaya produksi ikut meningkat dan petani belum memiliki posisi tawar yang kuat.

Harga Sawit Turun, Harga Pupuk Naik

Pada subsektor perkebunan rakyat, NTP meningkat 1,72% pada September 2026. Namun, petani masih menghadapi ketidakpastian harga jual dan kenaikan biaya sarana produksi.

Ketua Majelis Wilayah Petani (MWP) SPI Sumatera Utara, Wagimin, melaporkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit berada di kisaran Rp 2.600 per kilogram dalam dua minggu terakhir, turun dari Rp 2.810–Rp 2.830 per kilogram pada September 2026.

Pada saat yang sama, harga pupuk urea meningkat dari sekitar Rp 300.000–Rp 400.000 menjadi Rp 650.000–Rp 700.000 per 50 kilogram.

“Harga TBS kelapa sawit di Sumatera Utara berada di kisaran Rp 2.600 per kilogram, sementara harga pupuk urea sudah mencapai Rp 650.000–Rp 700.000 per 50 kilogram,” ujar Wagimin.

Di Riau, Serikat Petani Indonesia (SPI) Misngadi melaporkan harga TBS di tingkat petani berkisar Rp 2.800–Rp 2.900 per kilogram. Di lokasi dengan infrastruktur yang kurang memadai, harga yang diterima petani hanya sekitar Rp 2.500–Rp 2.600 per kilogram, turun dari Rp 3.100–Rp 3.200 per kilogram pada Agustus. Penurunan tersebut, menurut laporan petani, berkaitan dengan melemahnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia.

Di sisi lain, harga beberapa komoditas perkebunan mengalami kenaikan. Wakil Ketua DPW SPI Yogyakarta, Tri Haryono, melaporkan harga kopi green bean sekitar Rp 80.000 per kilogram dan berpotensi mencapai Rp 90.000 per kilogram pada akhir tahun. Sementara itu, petani bernama Arifin di Wonosobo melaporkan harga kopi berkisar Rp 68.000–Rp 70.000 per kilogram, sedangkan kopi kualitas A mencapai Rp 75.000 per kilogram.

Baca Juga: Penetapan Upah Minimum 2027 Ditargetkan Rampung Akhir November

Perbedaan perkembangan harga tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas tidak otomatis menjamin peningkatan pendapatan petani. Biaya produksi, produktivitas, dan akses pasar tetap menentukan keuntungan yang diterima.

Peternak dan Petani Maluku Utara Tertekan

NTP subsektor peternakan meningkat 0,57% pada September 2026. Namun, peternak di sejumlah daerah masih menghadapi persoalan harga dan pemasaran.

Wizerni, anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) di Sumatera Barat, melaporkan harga sapi mengalami penurunan dan penjualan ternak semakin sulit. Harga ayam kampung turun dari sekitar Rp 45.000 menjadi Rp 36.000–Rp 38.000, sedangkan harga ayam negeri berada di kisaran Rp 25.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga normal sekitar Rp 30.000.

“Harga ayam kampung turun menjadi sekitar Rp 36.000–Rp 38.000, sedangkan ayam negeri berada di kisaran Rp 25.000 per kilogram. Penjualan ternak juga semakin sulit,” ujar Wizerni.

Tekanan lebih berat dialami petani di Maluku Utara akibat kemarau panjang. Ketua DPW SPI Maluku Utara, Ali Akbar, melaporkan kekeringan selama berbulan-bulan berdampak pada tanaman pangan dan perkebunan, mulai dari cabai dan tomat hingga pala, cengkeh, dan kelapa. Sebagian tanaman bahkan dilaporkan mati akibat kekurangan air.

“Kemarau panjang berdampak pada tanaman pangan dan perkebunan. Sebagian tanaman kekurangan air, bahkan mati akibat kekeringan,” ujar Akbar.

Ali Akbar juga melaporkan kebakaran lahan mencapai sekitar 3.300 hektare, termasuk lahan milik warga. Menurut dia, penanganan dampak kekeringan dan kebakaran masih membutuhkan dukungan yang lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan air dan memulihkan lahan pertanian.

BPS mencatat NTP Maluku Utara turun 1,05% pada September 2026. Indeks harga yang diterima petani hanya meningkat 0,79%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik 1,86%.

Penurunan NTP tersebut memperlihatkan tekanan ekonomi yang dihadapi petani di wilayah itu. Ketika produksi terganggu akibat cuaca ekstrem, petani berisiko kehilangan hasil panen sekaligus modal yang telah dikeluarkan.

Kondisi petani di berbagai daerah menunjukkan bahwa peningkatan NTP nasional belum sepenuhnya menggambarkan kesejahteraan petani. Pemerintah perlu memperkuat dukungan pengairan, menyediakan sarana produksi dengan harga terjangkau, memperbaiki akses pemasaran, serta meningkatkan mitigasi dampak perubahan iklim agar petani dapat mempertahankan produksi dan memperoleh pendapatan yang layak. 

Baca Juga: Pemerintah Andalkan Ekonomi Syariah Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×