kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Neraca perdagangan mengalami defisit US$ 1,33 miliar pada November 2019


Senin, 16 Desember 2019 / 11:45 WIB
ILUSTRASI. Neraca perdagangan pada November 2019 defisit US$ 1,33 miliar. ANTARA FOTO/Galih Pradipta


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan pada November 2019 mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang pada bulan tersebut adalah sebesar US$ 1,33 miliar.

"Ini cukup dalam, tetapi masih lebih kecil dibandingkan posisi November 2018 yang defisit US$ 2,05 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto pada Senin (16/12) di Jakarta.

Defisit neraca perdagangan bila dilihat secara bulanan, disebabkan oleh peningkatan impor di tengah penurunan ekspor. Sementara bila dilihat secara tahunan, ini disebabkan oleh angka ekspor dan impor yang sama-sama terkontraksi, tetapi penurunan ekspor lebih dalam daripada penurunan impor.

Secara terperinci, ekspor Indonesia pada November 2019 tercatat sebesar US$ 14,01 miliar atau turun sebesar 6,17% mom. Sementara impor pada November 2019 tercatat sebesar US$ 15,34 miliar atau naik 3,94% mom.

Baca Juga: Neraca dagang November defisit, IHSG tetap naik 0,45% ke 6.225,48 pada sesi I

Suhariyanto pun menambahkan total nilai ekspor dan impor Indonesia tentunya dipengaruhi oleh peningkatan dan penurunan harga komoditas baik minyak dan gas (migas) maupun non-migas.

Beberapa di antaranya adalah kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga mencapai US$ 63,26 per barel dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 59,82 per barel.

Sementara beberapa komoditas non-migas yang mengalami peningkatan harga antara lain minyak sawit yang naik 15,6%, karet dengan kenaikan 7,6%, dan komoditas lainnya seperti minyak kernel, cokelat, alumunium, dan tembaga. Hanya saja, ada beberapa komoditas non-migas yang mengalami penurunan harga, seperti batubara dengan penurunan 2,8%, nikel, emas, perak, timah, dan seng.

Bila dilihat secara kumulatif dari Januari 2019 - November 2019, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 3,11 miliar. Torehan defisit ini lebih kecil dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$ 7,6 miliar.

Suhariyanto mengungkapkan bahwa neraca perdagangan Indonesia saat ini masih mendapat tantangan yang luar biasa sehingga untuk ke depannya, ia mengimbau agar Indonesia terus berhati-hati.

"Karena ada perekonomian yang melambat dan perdagangan internasional yang juga melambat sehingga permintaan menurun dan kita harus hati-hati akan ini," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×