kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.989   -13,00   -0,07%
  • IDX 5.208   -70,96   -1,34%
  • KOMPAS100 670   -9,94   -1,46%
  • LQ45 523   -7,40   -1,40%
  • ISSI 177   -2,80   -1,56%
  • IDX30 294   -3,59   -1,21%
  • IDXHIDIV20 383   -5,99   -1,54%
  • IDX80 77   -1,04   -1,33%
  • IDXV30 106   -1,76   -1,63%
  • IDXQ30 97   -1,11   -1,13%

Neraca perdagangan mengalami defisit US$ 1,33 miliar pada November 2019


Senin, 16 Desember 2019 / 11:45 WIB
ILUSTRASI. Neraca perdagangan pada November 2019 defisit US$ 1,33 miliar. ANTARA FOTO/Galih Pradipta


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan pada November 2019 mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang pada bulan tersebut adalah sebesar US$ 1,33 miliar.

"Ini cukup dalam, tetapi masih lebih kecil dibandingkan posisi November 2018 yang defisit US$ 2,05 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto pada Senin (16/12) di Jakarta.

Defisit neraca perdagangan bila dilihat secara bulanan, disebabkan oleh peningkatan impor di tengah penurunan ekspor. Sementara bila dilihat secara tahunan, ini disebabkan oleh angka ekspor dan impor yang sama-sama terkontraksi, tetapi penurunan ekspor lebih dalam daripada penurunan impor.

Secara terperinci, ekspor Indonesia pada November 2019 tercatat sebesar US$ 14,01 miliar atau turun sebesar 6,17% mom. Sementara impor pada November 2019 tercatat sebesar US$ 15,34 miliar atau naik 3,94% mom.

Baca Juga: Neraca dagang November defisit, IHSG tetap naik 0,45% ke 6.225,48 pada sesi I

Suhariyanto pun menambahkan total nilai ekspor dan impor Indonesia tentunya dipengaruhi oleh peningkatan dan penurunan harga komoditas baik minyak dan gas (migas) maupun non-migas.

Beberapa di antaranya adalah kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga mencapai US$ 63,26 per barel dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 59,82 per barel.

Sementara beberapa komoditas non-migas yang mengalami peningkatan harga antara lain minyak sawit yang naik 15,6%, karet dengan kenaikan 7,6%, dan komoditas lainnya seperti minyak kernel, cokelat, alumunium, dan tembaga. Hanya saja, ada beberapa komoditas non-migas yang mengalami penurunan harga, seperti batubara dengan penurunan 2,8%, nikel, emas, perak, timah, dan seng.

Bila dilihat secara kumulatif dari Januari 2019 - November 2019, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 3,11 miliar. Torehan defisit ini lebih kecil dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$ 7,6 miliar.

Suhariyanto mengungkapkan bahwa neraca perdagangan Indonesia saat ini masih mendapat tantangan yang luar biasa sehingga untuk ke depannya, ia mengimbau agar Indonesia terus berhati-hati.

"Karena ada perekonomian yang melambat dan perdagangan internasional yang juga melambat sehingga permintaan menurun dan kita harus hati-hati akan ini," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×