kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Neraca perdagangan mengalami defisit US$ 1,33 miliar pada November 2019


Senin, 16 Desember 2019 / 11:45 WIB
Neraca perdagangan mengalami defisit US$ 1,33 miliar pada November 2019
ILUSTRASI. Neraca perdagangan pada November 2019 defisit US$ 1,33 miliar. ANTARA FOTO/Galih Pradipta


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan pada November 2019 mengalami defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang pada bulan tersebut adalah sebesar US$ 1,33 miliar.

"Ini cukup dalam, tetapi masih lebih kecil dibandingkan posisi November 2018 yang defisit US$ 2,05 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto pada Senin (16/12) di Jakarta.

Defisit neraca perdagangan bila dilihat secara bulanan, disebabkan oleh peningkatan impor di tengah penurunan ekspor. Sementara bila dilihat secara tahunan, ini disebabkan oleh angka ekspor dan impor yang sama-sama terkontraksi, tetapi penurunan ekspor lebih dalam daripada penurunan impor.

Secara terperinci, ekspor Indonesia pada November 2019 tercatat sebesar US$ 14,01 miliar atau turun sebesar 6,17% mom. Sementara impor pada November 2019 tercatat sebesar US$ 15,34 miliar atau naik 3,94% mom.

Baca Juga: Neraca dagang November defisit, IHSG tetap naik 0,45% ke 6.225,48 pada sesi I

Suhariyanto pun menambahkan total nilai ekspor dan impor Indonesia tentunya dipengaruhi oleh peningkatan dan penurunan harga komoditas baik minyak dan gas (migas) maupun non-migas.

Beberapa di antaranya adalah kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga mencapai US$ 63,26 per barel dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 59,82 per barel.

Sementara beberapa komoditas non-migas yang mengalami peningkatan harga antara lain minyak sawit yang naik 15,6%, karet dengan kenaikan 7,6%, dan komoditas lainnya seperti minyak kernel, cokelat, alumunium, dan tembaga. Hanya saja, ada beberapa komoditas non-migas yang mengalami penurunan harga, seperti batubara dengan penurunan 2,8%, nikel, emas, perak, timah, dan seng.

Bila dilihat secara kumulatif dari Januari 2019 - November 2019, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 3,11 miliar. Torehan defisit ini lebih kecil dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$ 7,6 miliar.

Suhariyanto mengungkapkan bahwa neraca perdagangan Indonesia saat ini masih mendapat tantangan yang luar biasa sehingga untuk ke depannya, ia mengimbau agar Indonesia terus berhati-hati.

"Karena ada perekonomian yang melambat dan perdagangan internasional yang juga melambat sehingga permintaan menurun dan kita harus hati-hati akan ini," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×