Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan masih mencatatkan defisit pada Juli 2026. Namun, nilai defisit diperkirakan semakin menyempit dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan, neraca dagang Indonesia pada Juli 2026 mengalami defisit sekitar US$ 200 juta.
Baca Juga: Neraca Dagang Juli 2026 Diprediksi Defisit US$ 380 Juta, Ini Penyebabnya
“Kami memproyeksikan neraca dagang Indonesia pada Juli 2026 masih mencatatkan defisit terbatas, sekitar US$ 0,2 miliar,” ujar Banjaran kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).
Sebagai perbandingan, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit kemudian menyempit menjadi US$ 450,5 juta pada Juni 2026.
Menurut Banjaran, tekanan terhadap neraca perdagangan masih terutama berasal dari sisi impor.
Pada Juni 2026, impor Indonesia tumbuh 34,27% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$ 25,91 miliar. Pertumbuhan impor tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor yang tumbuh 8,84% YooY.
Banjaran memperkirakan permintaan impor masih relatif kuat pada Juli 2026. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali berada di zona ekspansif pada level 50,2.
“Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan bahan baku dan barang modal impor tetap kuat,” jelasnya.
Baca Juga: 64 Perusahaan Tambang Dapat Relaksasi DHE SDA, Retensi Devisa Turun Signifikan
Tekanan Migas Berpotensi Mereda
Meski impor masih menjadi sumber tekanan, Banjaran melihat tekanan dari neraca perdagangan migas berpotensi mereda.
Ia mencatat, harga minyak dunia rata-rata berada di level US$ 83,9 per barel pada Juli 2026. Harga tersebut bergerak lebih moderat dibandingkan kondisi pada kuartal II 2026.
Dengan demikian, penurunan tekanan harga minyak berpotensi membantu mengurangi defisit neraca perdagangan dari sisi migas.
Sementara itu, dari sisi ekspor, kinerja ekspor nonmigas diperkirakan masih menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia.
Banjaran menyebut pertumbuhan ekspor nonmigas pada Juni 2026 yang mencapai 9,46% yoy berpotensi berlanjut pada Juli.
Baca Juga: Inflasi Agustus Diproyeksi Naik 2,93% YoY, tapi Deflasi 0,04% MTM
“Hal tersebut sejalan dengan harga komoditas utama, seperti crude palm oil (CPO) yang relatif stabil,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Banjaran memperkirakan defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 akan semakin terbatas.
Meski demikian, kuatnya permintaan impor masih menjadi faktor yang menahan neraca perdagangan Indonesia untuk kembali mencatatkan surplus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














