kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   -48.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Surplus US$ 990 Juta pada Juli 2026


Minggu, 30 Agustus 2026 / 15:55 WIB
Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Surplus US$ 990 Juta pada Juli 2026
ILUSTRASI. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mencatat kinerja positif pada Juli 2026 setelah mengalami defisit pada bulan sebelumnya (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mencatat kinerja positif pada Juli 2026 setelah mengalami defisit pada bulan sebelumnya. Perbaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekspor yang diproyeksikan lebih kuat secara bulanan dibandingkan dengan impor.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 akan mencatat surplus sebesar US$ 990 juta. Proyeksi tersebut berbalik dari defisit sebesar US$ 451 juta yang terjadi pada Juni 2026.

"Trade balance Juli surplus US$ 990 juta dari sebelumnya Juni defisit US$ 451 juta," ujar David kepada Kontan, Minggu (30/8/2026).

David mengatakan, surplus neraca perdagangan pada Juli 2026 terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor secara bulanan atau month on month (MoM) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan impor.

Baca Juga: 64 Eksportir Tambang Dapat Relaksasi DHE SDA, Ini Daftar Lengkapnya

Ia memperkirakan ekspor Indonesia pada Juli 2026 tumbuh 4,54% secara tahunan (year on year/YoY) dan meningkat 1,63% secara bulanan (MoM).

Sementara itu, impor diproyeksikan tumbuh cukup tinggi secara tahunan, yakni sebesar 20,94%. Namun, secara bulanan, impor diperkirakan mengalami penurunan sebesar 3,96%.

Menurut David, peningkatan kinerja ekspor secara bulanan tercermin dari data impor sejumlah negara terhadap produk Indonesia yang masih menunjukkan tren relatif persisten. Kondisi tersebut berbeda dengan ekspor ke Indonesia yang mengalami penurunan lebih dalam.

"Secara bulanan, ekspor naik lebih tinggi tercermin dari data impor negara lain dari Indonesia lebih persisten dibandingkan dengan ekspor ke Indonesia yang turun lebih dalam," jelas David.

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Bakal Sasar 13 Tindak Pidana, Korupsi hingga Perdagangan Orang

Meski demikian, David mencermati adanya perlambatan harga sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia. Perlambatan tersebut terutama terlihat pada komoditas batu bara dan logam.

Di sisi lain, harga minyak pada Juli 2026 dinilai masih relatif stagnan. Kondisi harga komoditas tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat kinerja ekspor Indonesia ke depan.

Dengan proyeksi tersebut, neraca perdagangan Indonesia berpotensi kembali membukukan surplus pada Juli 2026 setelah sebelumnya mencatat defisit US$ 451 juta pada Juni 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×