Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat Moody’s kembali mempertahankan peringkat utang atau sovereign credit rating Indonesia pada peringkat Baa2 atau layak investasi (investment grade) dengan outook stabil pada Kamis (10/2).
Analis makroekonomi Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, peringkat ini menunjukkan kredibilitas Indonesia dalam menjaga level utang dan keberlangsungan fiskal sehingga masih menjadi daya tarik bagi investor.
“Artinya, aset domestik terutama surat utang pemerintah masih sangat bagus menjadi penempatan aset bagi investor asing di tengah ketidakpastian dari Covid-19,” tutur Faiz kepada Kontan.co.id, Jumat (11/2).
Faiz juga mengatakan, ini bisa menjadi sinyal bahwa Indonesia masih kredibel di level investor global dan akan memberi kemudahan lebih untuk menghimpun dana dari investor asing terutama di surat utang domestik.
Baca Juga: Moody's: Potensi Tingkat Pertumbuhan Indonesia Terus Menurun Selama Dekade Terakhir
Sehingga, ini pun bisa membawa angin segar bagi prospek pergerakan nilai tukar rupiah Indonesia dalam jangka pendek. Ia memperkirakan, rupiah dalam jangka pendek akan bergerak di kisaran Rp 14.400 hingga Rp 14.500 per dollar Amerika Serikat (AS).
Akan tetapi, Faiz mengingatkan bahwa efeknya ini hanya sementara saja. Pasalnya, masih ada risiko berupa percepatan normalisasi kebijakan moneter AS dan potensi peningkatan impor seiring dengan pemulihan ekonomi domestik.
Sehingga ke akhir tahun, ia memperkirakan nilai tukar rupiah bisa kembali melemah dan bahkan berada di kisaran Rp 14.600 hingga Rp 14.700 per dollar AS.
“Dengan asumsi kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 3 kali masing-masing 25 basis poin (bps) dan direspons oleh BI dengan peningkatan suku bunga hingga 100 bps. Ditambah pemulihan domestik yang akan mendorong impor di tengah pemulihan ekonomi domestik terutama di semester II-2022,” jelas Faiz.
Baca Juga: Moody's Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Begini Tanggapan Gubernur BI
Lebih lanjut, Faiz melihat lembaga-lembaga pemeringkat lain masih akan mempertahankan level peringkat utang Indonesia karena kondisi ekonomi Indonesia yang relatif stabil.
Namun, Indonesia juga tak boleh bersantai-santai dahulu, karena Indonesia tetap harus mempertahankan kinerja ini dengan melakukan perbaikan kondisi ekonomi yang cukup menantang di tengah peningkatan kasus harian Covid-19 varian Omicron.
Baca Juga: Pertamina Bukukan Keuntungan US$ 6,1 Miliar Sepanjang 2018-2020
Selain itu, Pemerintah juga harus melakukan komitmen fiskal untuk mengembalikan defisit di bawah 3% Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023. Karena menurutnya disiplin fiskal ini yang akan sangat diperhatikan oleh lembaga pemeringkat.
“Saya melihat masih akan dipertahankan (peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat lain). Namun, untuk dinaikkan kemungkinan belum karena ketidakpastian masih tinggi di tengah dampak normalisasi kebijakan The Fed,” tandas Faiz.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













