kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Menuju Setengah Abad, Bisnis Jalan Tol Indonesia Masih Dikuasi 5 Penguasa Ini


Senin, 02 November 2026 / 05:21 WIB
Menuju Setengah Abad, Bisnis Jalan Tol Indonesia Masih Dikuasi 5 Penguasa Ini
ILUSTRASI. Progres pembangunan Tol Kataraja Seksi 1 (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Bisnis jalan tol di Indonesia memasuki usia ke 48 tahun pada 2026 ini. Meski mendekati setengah abad, bisnis jalan tol di Indonesia masih terkonsentrasi pada sejumlah operator besar, khususnya perusahaan milik negara.

Lima pemain utama yang memiliki portofolio jalan tol cukup luas adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Hutama Karya (Persero), Astra Infra, PT Waskita Toll Road (WTR), dan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP).

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum (PU), jaringan jalan tol yang telah beroperasi di Indonesia mencapai sekitar 3.100 kilometer (km), terdiri dari 76 ruas. Nilai investasi yang telah ditanamkan untuk pembangunan jaringan tersebut mencapai Rp 779 triliun.

Menteri PU Dody Hanggodo sebelumnya menyampaikan, jaringan jalan tol nasional tersebut dikelola oleh 54 badan usaha jalan tol (BUJT).

Di tengah pengembangan infrastruktur jalan tol, masing-masing operator memiliki strategi bisnis yang berbeda. Jasa Marga dan Hutama Karya menjadi pemain utama dengan jaringan luas, sementara Astra Infra memperkuat kapasitas ruas yang telah beroperasi.

Di sisi lain, Waskita Toll Road melakukan konsolidasi portofolio melalui divestasi aset, sedangkan CMNP mempertahankan fokus pada sejumlah konsesi strategis, terutama di kawasan perkotaan.

Berikut peta lima pemain utama dalam bisnis jalan tol Indonesia.

Baca Juga: Ekonom Minta Pemerintah Tawarkan Yield SBN Lebih Tinggi, Ini Kisaran Idealnya

1. Jasa Marga, penguasa 42% jalan tol nasional

PT Jasa Marga (Persero) Tbk masih menjadi operator jalan tol terbesar di Indonesia.

Hingga Oktober 2026, perseroan mengoperasikan sekitar 1.318 km jalan tol. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 42% dari total panjang jalan tol yang telah beroperasi di Indonesia.

Jaringan jalan tol Jasa Marga tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan hingga Sulawesi.

Dari sisi kinerja keuangan, Jasa Marga membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 15,6 triliun hingga kuartal III-2026. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp 2,7 triliun.

Perseroan juga terus mengembangkan sejumlah proyek strategis, antara lain Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Akses Patimban, Yogyakarta-Bawen sepanjang 75,12 km, serta Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo.

Pengembangan jaringan tersebut menjadi bagian dari upaya Jasa Marga mempertahankan posisi sebagai operator jalan tol terbesar di Tanah Air.

Baca Juga: Hari Ini (2/11) MA Gelar Konferensi Pers soal Putusan Kasasi Suket Ijazah SMA Gibran

2. Hutama Karya, andalan pembangunan Tol Trans-Sumatera

PT Hutama Karya (Persero) menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan jalan tol di Indonesia, terutama melalui penugasan pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS).

Penugasan tersebut diberikan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 100 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera, yang kemudian mengalami beberapa kali perubahan.

Hingga kuartal III-2026, total jalan tol yang dioperasikan Hutama Karya bersama anak usahanya mencapai sekitar 872,5 km. Angka tersebut termasuk pengelolaan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta Seksi S (JORR-S) dan Akses Tanjung Priok.

Khusus jaringan JTTS, panjang ruas yang dioperasikan mencapai sekitar 847 km.

Salah satu ruas utama yang menjadi bagian dari jaringan tersebut adalah Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang sekitar 189 km.

Dalam pengembangan berikutnya, Hutama Karya berfokus melanjutkan sejumlah koridor Trans-Sumatera, termasuk Palembang-Betung, Betung-Jambi, serta Rengat-Pekanbaru.

Pengembangan jaringan ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas antardaerah sekaligus mendukung distribusi logistik dan aktivitas ekonomi di Pulau Sumatera.

Baca Juga: Mahfud MD Minta Penerbitan Suket Gibran Diproses Pidana, Ini Pertimbangannya

3. Astra Infra, fokus meningkatkan kapasitas jalan tol

Di sektor swasta, Astra Infra menjadi salah satu operator besar yang memiliki sejumlah konsesi strategis.

Melalui PT Astra Tol Nusantara dan entitas anaknya, Astra Infra mengelola sejumlah ruas jalan tol di Indonesia, terutama di koridor Trans-Jawa.

Portofolionya antara lain mencakup Tol Tangerang-Merak sepanjang 72,5 km, Tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116,8 km, serta Tol Jombang-Mojokerto sepanjang 40,5 km.

Strategi Astra Infra tidak hanya berorientasi pada penambahan konsesi baru, tetapi juga peningkatan kapasitas dan kualitas layanan pada ruas yang telah beroperasi.

Salah satu contohnya adalah pengembangan Tol Tangerang-Merak. Dari total panjang 72,5 km, sekitar 51,1 km telah memiliki tiga lajur, sedangkan 12,3 km lainnya sudah memiliki empat lajur.

Peningkatan kapasitas tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan volume kendaraan dan menjaga kelancaran lalu lintas.

Selain itu, Astra Infra juga memanfaatkan teknologi pemantauan infrastruktur untuk mendukung pemeliharaan jalan tol dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Tonton: Bursa Babak Belur, Bagaimana Menyusun Strategi Investasi?

4. Waskita Toll Road, konsolidasi melalui divestasi aset

Berbeda dengan operator lainnya, PT Waskita Toll Road (WTR), anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk, tengah menjalankan strategi konsolidasi portofolio.

Langkah ini dilakukan melalui pelepasan sebagian kepemilikan saham pada sejumlah ruas jalan tol sebagai bagian dari upaya penyehatan keuangan perusahaan.

Dalam laporan tahunan Waskita Karya 2024, Waskita Group mencatat masih memiliki portofolio 10 ruas jalan tol.

Salah satu aksi divestasi yang dilakukan adalah pelepasan kepemilikan saham pada PT Cimanggis Cibitung Tollways. Waskita Toll Road mengumumkan transaksi material terkait divestasi tersebut pada Desember 2025.

Strategi divestasi menjadi salah satu langkah perusahaan untuk mengoptimalkan aset, memperbaiki struktur keuangan, dan mengurangi beban pendanaan.

Dengan demikian, arah bisnis Waskita Toll Road saat ini tidak semata-mata mengejar penambahan panjang jalan tol, tetapi juga mengutamakan konsolidasi dan optimalisasi portofolio yang tersisa.

Tonton: Kasus Saham DSSA, OJK Sanksi 19 Pihak

5. CMNP, pemain swasta dengan konsesi strategis

PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) juga menjadi salah satu pemain penting dalam industri jalan tol nasional.

Perusahaan yang telah berkiprah sejak 1987 ini memiliki sejumlah konsesi jalan tol melalui perusahaan induk maupun entitas anak.

Salah satu aset strategisnya adalah Tol Cawang-Tanjung Priok-Ancol Timur-Jembatan Tiga/Pluit sepanjang sekitar 27,1 km yang dikenal sebagai bagian dari jaringan Tol Dalam Kota Jakarta.

Selain itu, portofolio CMNP mencakup Tol Waru-Juanda, Depok-Antasari, Soreang-Pasir Koja, Cileunyi-Sumedang-Dawuan, serta Bogor Outer Ring Road.

Berdasarkan laporan perusahaan, CMNP Group memiliki enam konsesi jalan tol. Beberapa ruas telah beroperasi, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pengembangan.

CMNP juga mengembangkan proyek Harbour Road II atau Tol Ancol Timur-Jembatan Tiga/Pluit sepanjang sekitar 9,6 km.

Di sisi lain, perpanjangan masa konsesi Tol Cawang-Pluit hingga 2060 menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan portofolio perusahaan.

Kepemilikan silang membuat peta pengelola jalan tol lebih kompleks

Meski lima kelompok usaha tersebut memiliki jaringan jalan tol yang luas, pemetaan penguasaan jalan tol nasional tidak bisa dilakukan hanya dengan menjumlahkan panjang ruas yang dikelola masing-masing perusahaan.

Pasalnya, industri jalan tol Indonesia mengenal skema kepemilikan silang melalui perusahaan patungan atau joint venture.

Dalam skema tersebut, satu ruas jalan tol bisa melibatkan lebih dari satu investor atau operator. Dengan demikian, panjang jalan tol yang dikelola suatu kelompok usaha belum tentu seluruhnya merupakan kepemilikan langsung perusahaan tersebut.

Kondisi ini membuat penghitungan pangsa pasar berdasarkan panjang jalan tol perlu memperhatikan struktur kepemilikan saham dan hak pengusahaan masing-masing ruas.

Pemerintah targetkan tambahan 2.461 km jalan tol hingga 2029

Ke depan, persaingan bisnis jalan tol diperkirakan semakin dinamis seiring dengan rencana pemerintah memperluas jaringan infrastruktur nasional.

Mengacu pada Rencana Umum Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dan Pembiayaan Kreatif Sektor Jalan Tol 2025-2029, pemerintah menyiapkan rencana pengembangan 45 ruas jalan tol dengan total panjang sekitar 2.461,37 km.

Rencana tersebut mencakup pengembangan jaringan di Sumatera, Jawa, dan Bali.

Dengan ekspansi tersebut, Jasa Marga dan Hutama Karya masih memiliki peran penting dalam pengembangan jaringan jalan tol nasional. Sementara itu, operator swasta berpeluang memperkuat bisnis melalui optimalisasi konsesi, peningkatan kapasitas, serta pengembangan ruas strategis.

Perbedaan strategi masing-masing operator akan turut membentuk peta persaingan industri jalan tol Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.







Sebagian artikel telah tayang di: https://www.kompas.com/properti/read/2026/11/01/190000621/siapa-pemilik-3.116-kilometer-jalan-tol-indonesia-ini-petanya?page=all#page2.


 

Kasus Saham DSSA, OJK Sanksi 19 Pihak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×