kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Menko Airlangga ingin hilirisasi bauksit terealisasi secepatnya


Jumat, 31 Januari 2020 / 13:56 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengunjungi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang yang berada di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (30/1).


Reporter: Grace Olivia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengunjungi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang yang berada di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (30/1)

Dalam kunjungan itu, Airlangga meminta agar KEK Galang Batang bisa segera beroperasi penuh mengolah bauksit menjadi alumina dan aluminium. 

Baca Juga: Suahasil Nazara sebut Kemenkeu genjot insentif pajak untuk ungkit pertumbuhan ekonomi

“KEK Galang Batang ini diharapkan bisa segera mengolah bauksit menjadi alumina dan aluminium, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk hilirisasi dan nilai tambah industri,” ujar Airlangga seperti dikutip dari keterangan resminya, Jumat (31/1). 

KEK Galang Batang memang ditujukan untuk mengembangkan industri pengolahan bijih bauksit menjadi alumina agar dapat memberi nilai tambah terhadap perekonomian nasional, serta secara bertahap memenuhi kebutuhan akan alumina hingga produk turunannya di dalam negeri. 

Pasalnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali telah menyampaikan keseriusannya untuk melarang ekspor bahan mentah mineral dan batu bara (minerba). Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 11 Tahun 2019, ekspor biji nikel sudah dilarang sejak 1 Januari 2020, dan ini direncanakan diimplementasikan secara bertahap kepada komoditas lain juga, seperti bauksit, timah, dan batu bara.

Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa produksi bauksit nasional saat ini mencapai 40 juta ton per tahun. Jika bijih bauksit itu diolah di dalam negeri menjadi alumina, maka nilai tambah yang akan dihasilkan mencapai lima kali lipat dibandingkan jika bauksit tersebut diekspor dalam bentuk bahan mentah.

Baca Juga: Gembos di Awal, Awas Antiklimaks Omnibus Law




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×