kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Menkeu: Pertumbuhan ekonomi 5,6% paling realistis


Jumat, 23 Januari 2015 / 15:09 WIB
Menkeu: Pertumbuhan ekonomi 5,6% paling realistis
ILUSTRASI. PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) tetap berfokus menyediakan tanah industri sesuai kebutuhan saat ini


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Dua asumsi makro yang dicanangkan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015 dinilai terlalu optimis. Dua asumsi makro itu adalah asumsi pertumbuhan dan nilai tukar rupiah, sehingga pemerintah melakukan merevisi. 

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, target pertumbuhan 5,6% adalah paling realistis tahun ini. Sebelumnya dalam RAPBN-P 2015 target pertumbuhan adalah 5,8%.

Target ini sama dengan perkiraan Asian Development Bank (ADB) terhadap ekonomi Indonesia tahun ini. Ia menjelaskan, prediksi pertumbuhan ADB adalah prediksi yang paling dekat dengan realisasi ekonomi Indonesia. Berbeda jauh dengan perkiraan ekonomi yang berasal dari World Bank ataupun International Monetary Fund (IMF) yang melihat ekonomi tahun ini 5,2%.

Menurut Bambang, baseline pertumbuhan Indonesia adalah 5,3%. Pertumbuhan berbasis baseline ini adalah pertumbuhan tanpa upaya ekstra dan hanya bertumpu pada konsumsi rumah tangga.

Maka dari itu harus ada upaya untuk bisa menaikkannya menjadi 5,6%. Caranya, pemerintah akan menggenjot investasi baik dari sisi konsumsi pemerintah ataupun dari investasi swasta. Untuk investasi swasta, iklim investasi harus dijaga. "Ini yang akan dibenahi di 2015, soal perizinan dan kemudahan berinvestasi. Dari awal memang kita harus ekstra effort," ujar Bambang dalam rapat dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jakarta, Kamis (22/1).

Untuk rupiah sendiri, Bambang menjelaskan rupiah akan ditaruh pada posisi Rp 12.500 per dollar Amerika Serikat (AS). Dalam RAPBN-P 2015 asumsi rupiah adalah Rp 12.200. Asumsi Rp 12.500 ini adalah titik tengah dari rentang rupiah yang disampaikan oleh Bank Indonesia (BI) yaitu antara Rp 12.200-Rp 12.800. 

Ia menjelaskan, ekonomi Indonesia pada tahun ini akan sangat dipengaruhi kebijakan Amerika untuk menaikkan suku bunganya. Perkiraan kenaikannya bisa mencapai 1% atau 100 bps yang diramalkan paling cepat terjadi pada awal semester kedua 2015.

Kebijakan ini mau tidak mau akan menimbulkan arus pembalikan dari negara berkembang yang selama ini menjadi tujuan utama investor kembali ke Amerika. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi stabilitas ekonomi tanah air, baik untuk petumbuhan ataupun rupiah.

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan kondisi rupiah terakhir pada Kamis (22/1) tercatat pada level Rp 12.460. Level ini menguat dibanding posisi sebelumnya yang sempat menyentuh level Rp 12.600. 

Nilai tukar pada tahun ini sudah pasti akan lebih lemah dibanding rata-rata kurs tahun 2014 yang sebesar Rp 11.900. "Jadi sudah pasti di atas Rp 12.000. Lihat perkembangan terakhir, rangenya ini kalau pake range adalah mid Rp 12.400-Rp 12.600," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×