kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Menkes himbau masyarakat waspadai cacar monyet


Selasa, 14 Mei 2019 / 19:09 WIB
Menkes himbau masyarakat waspadai cacar monyet


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cacar monyet (monkeypox) menjadi salah satu penyakit yang menjadi pembicaraan dalam beberapa waktu sebelumnya. Bahkan, penyakit ini telah ditemukan di Singapura.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek pun mengimbau agar masyarakat mewaspadai penyakit ini. Mengingat cacar monyet merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh binatang. Bahkan, menurutnya saat ini belum ada vaksin untuk cacar monyet.

"Tentu lingkungan memegang peranan penting, Karena itu, mencuci tangan dan menghindari kontak dengan hewan terinfeksi. Kalau mau kontak dengan hewan juga gunakan sarung tangan dan masker. Juga lakukan perilaku hidup bersih dan sehat," ujar Nila, Selasa (14/5).

Nila menambahkan, cacar monyet ini tak hanya ditularkan oleh kera tetapi juga dari hewan liar lain seperti tikus dan tupai. Menurutnya, penyakit cacar monyet juga dapat menular melalui darah dan luka pada kulit manusia.

Lebih lanjut Nila mengatakan, cacar monyet pun mirip dengan gejala penyakit lain seperti cacar air, campak atau infeksi kulit akibat bakteri. "Jadi (gejalanya) hampir sama, demam, sakit kepala, nyeri otot, pembesaran kelenjar getah bening yang timbul 1 - 3 minggu masa inkubasinya. Diagnosanya memang harus melalui laboratorium," terang Nila.

Untuk mencegah penyakit ini menyebar di Indonesia, Kementerian Kesehatan pun berkoordinasi dengan dinas kesehatan, bahkan melakukan pemeriksaan pada pendatang di Singapura dengan memasang thermo-scanner di Tanjungpinang dan Batam. "Kita mencoba mendeteksi karena sudah ada di Singapura," ujar Nila.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×