kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.083   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.091   -39,20   -0,64%
  • KOMPAS100 796   -3,58   -0,45%
  • LQ45 607   -1,51   -0,25%
  • ISSI 210   -1,41   -0,67%
  • IDX30 341   -0,73   -0,21%
  • IDXHIDIV20 422   -0,86   -0,20%
  • IDX80 91   -0,33   -0,36%
  • IDXV30 115   -0,50   -0,43%
  • IDXQ30 109   -0,23   -0,21%

Menkes: 112 Juta Masyarakat di Indonesia Masih Kekurangan Gizi


Rabu, 29 Juli 2026 / 15:01 WIB
Menkes: 112 Juta Masyarakat di Indonesia Masih Kekurangan Gizi
ILUSTRASI. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (Ist./Kementerian Kesehatan)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunandi Sadikin menyebut kekurangan gizi masih menjadi masalah di Indonesia. 

Menkes menyebut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 menunjukan bahwa sebanyak 112 juta masyarakat di Indonesia masih mengalami masalah gizi. 

"Jadi 112 juta masuatakat itu masih kekurangan gizi di Indonesia," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Rabu (29/7/2026). 

Bahkan, kata Budi, berdasarkan cek kesehatan gratis (CKG) di sekolah, mayoritas siswa SD hingga tamatan SMA juga tercatat kekurangan gizi. 

Untuk itu, Menkes menekankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peranan penting untuk perbaikan gizi seluruh anak di tanah air. 

Baca Juga: BGN Bakal Buka Portal Pengaduan MBG, Orang Tua Bisa Lapor Jika Menu Tidak Layak

Walau begitu, pemerintah mengakui masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan program MBG. 

Budi bilang, pihaknya bersama Badan Gizi Nasional (BGN) akan melakukan pertemuan dengan para ahli gizi yang tersebar di tanai air guna melakukan perbaikan tata kelola. 

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menargetkan ada dua hal perubahan. Yakni penentuan target penerima mulai dari siswa, ibu hamil dan ibu menyusui. 

"Itu kita harapkan sebelum tanggal 5 Agustus sudah selesai semua ahli gizi memberikan masukan ke Menteri Kesehatan dan BGN," kata Menkes. 

Selain itu, pertemuan itu juga diharapkan ada penentuan standar baru dalam penentuan menu yang lebih sesuai dengan kebutuhan gizi di masing masing daerah. 

Baca Juga: Menebak Arah Estafet BI dan Kementerian Keuangan Pasca Mundurnya Perry Warjiyo

Pemerintah juga menyepakati untuk membuka dapur baru khusus di daerah dengan angka stunting tinggi. Budi mengatakan, pihaknya sudah memberikan data sebaran angka stunting kepada BGN untuk dijadikan pedoman operasional dapur-dapur baru MBG. 

"Sebelum tanggal 5 Segera SPBG yang sudah siap itu dibuka langsung di daerah-daerah yang memang stuntingnya begini itu kesepakatan kita," terang Budi. 

Kemenkes bersama BGN juga akan melakukan riset perbaikan gizi usai pelaksanaan program MBG. Riset ini nanti akan dijadikan bahan evaluasi untuk menentukan arah kebijakan di sektor kesehatan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×