kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menakar Prospek Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2024-2025, Mampukah Naik di Atas 5%?


Selasa, 05 Maret 2024 / 14:22 WIB
Menakar Prospek Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2024-2025, Mampukah Naik di Atas 5%?
ILUSTRASI. Bayang-bayang pertumbuhan ekonomi Indonesia nampaknya belum menemukan celah untuk bisa menembus angka 6%.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bayang-bayang pertumbuhan ekonomi Indonesia nampaknya belum menemukan celah untuk bisa menembus angka 6%.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro memprediksi, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan mencapai 5,06%, sementara tahun depan diprediksi lebih tinggi yakni mencapai 5,05% hingga 5,15%.

Asmo menilai, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah bisa mengandalkan sektor-sektor fundamental yang ada. Seperti industri (Fast Moving Consumer Goods) atau industri yang bergerak di bidang produk konsumen biasanya untuk keperluan sehari-hari.

Baca Juga: Gubernur BI Beri Sinyal Akan Turunkan Suku Bunga di Semester II-2024

“Kemudian retail, health care, education, telekomunikasi, sektor yang di drive oleh kebijakan pemerintah, seperti hilirisasi, yang nanti relatif bisa men-drive,” tutur Asmo sapaan akrabnya kepada awak media selepas konferensi pers Mandiri Investment Forum, Selasa (5/3).

Meski begitu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut memang tidak mudah. Terdapat tantangan baik itu global dan domestik yang harus dihadapi.

Di tingkat global, tensi geopolitik masih belum usai. Kemudian Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) yang  berlangsung pada November 2024 akan banyak mempengaruhi Indonesia dalam beberapa aspek, seperti ekonomi, politik, keamanan, dan pertahanan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro.

“Kita membayangkan misalnya di akhir tahun presiden AS, diganti jadi Donald Trump misalnya. Ini pernah kita alami di 2018 lalu, ketika terjadi perang antara AS dan China, kemudian China melambat, harga komoditas turun, ini juga membuat pendapatan dari komoditas Indonesia turun,” ungkapnya.

Tantangan lainnya, yaitu terkait penurunan suku bunga global yang masih lambat, yang akan mempengaruhi inflasi global juga menjadi meningkat. Hal tersebut juga yang menyebabkan, Dan kemudian membatasi the fad untuk memangkas suku bunganya.

“Ini risiko yg perlu kita waspadai. Kalau The Fed nggak jadi memangkas suku bunganya, berubah itu semua itungan,” terangnya.

Baca Juga: Pesan Bos BI Untuk Pengusaha: Investasi Sekarang Akan Semakin Untung!

Adapun Asmo juga turut menyinggung alasan Indonesia sulit mencapai pertumbuhan ekonomi 6% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Ia menilai, faktor penyebabnya adalah sektor yang menyerap tenaga kerja terus menurun, peranan sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi juga menurun.

Kemudian, dalam 10 tahun terakhir juga, faktor volatilitas global menyebabkan pertumbuhan ekonomi tertahan. Seperti adanya pandemic Covid-19, dan suku bunga global yang relatif tinggi.

“Beda saat terjadinya komoditi boom (di era kepresidenan SBY) bisa pertumbuhan kita dapat 6% an. Kombinasi antara domestik dan eksternal faktor,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×