kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Masih isu, rokok sudah beri inflasi September


Senin, 03 Oktober 2016 / 14:18 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Isu kenaikan harga rokok yang bergulir sejak bulan Agustus lalu ternyata berdampak terhadap inflasi September 2016. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama September 2016, harga rokok mengalami inflasi sebesar 1%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, rokok menjadi salah satu penyebab inflasi bulan lalu. Sementara itu, kenaikan harga pada rokok filter dan rokok putih masing-masing memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02% dan 0,01% dan total bobot 3,52%.

"Belum terjadi kenaikan harga rokok, tetapi lebih kepada isu yang bergulir kemarin. Itu menjadikan pegadang aceran menaikkan (harga)," kata Suhariyanto, Senin (3/10).

Pemerintah baru mengumumkan kenaikan tarif cukai tembakau rata-rata sebesar 10,54% yang berlaku 1 Januari 2017 mendatang. Dengan begitu, akan terjadi juga kenaikan harga jual eceran (HJE) rokok dengan rata-rata 12,26%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, biasanya dengan adanya kenaikan tarif cukai, penjual tidak langsung menaikkan HJE sekaligus. Besaran kenaikan tersebut lanjut dia, biasanya didistribusikan ke beberapa bulan agar konsumen tidak merasakan dampak besar dari kenaikan harga tersebut.

Sayangnya, pihaknya belum menghitung dampak kenaikan cukai tersebut terhadap inflasi nasional di tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×