kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Lapangan Kerja Susut Tekan Kelas Menengah, Ini Langkah Pemerintah


Rabu, 15 April 2026 / 19:18 WIB
Lapangan Kerja Susut Tekan Kelas Menengah, Ini Langkah Pemerintah
ILUSTRASI. Aplikasi JobCity (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah mengaku terus mengupayakan berbagai langkah untuk menahan laju tekanan yang kian menghimpit masyarakat kelas menengah, di tengah menurunnya ketersediaan lapangan kerja dan pergeseran struktur ekonomi.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menegaskan, kelas menengah merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga keberlanjutannya harus dijaga melalui berbagai kebijakan.

“Kelas menengah itu betul-betul menjadi tulang punggung perekonomian kita, karena kontribusinya sangat besar terhadap ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: Mandiri Institute: Lapangan Kerja Berkualitas Perkuat Kelas Menengah

Tekanan terhadap kelas menengah saat ini datang dari berbagai arah, mulai dari disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), hingga pergeseran pekerjaan dari sektor formal ke informal, terutama ke sektor jasa.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan proporsi pekerjaan kelas menengah di sektor formal terus menurun sejak 2019.

Di sisi lain, sektor industri yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja besar juga mengalami penurunan kontribusi tenaga kerja, dari 25,64% pada 2019 menjadi 22,98% pada 2024.

Padahal, sektor manufaktur masih menyumbang sekitar 19% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, kelas menengah berkontribusi sekitar 54%-55% terhadap PDB dan menyumbang sekitar 80% konsumsi rumah tangga.

Survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menunjukkan lemahnya ekspansi dunia usaha. Sebanyak 67% perusahaan tidak berencana merekrut pekerja baru dalam waktu dekat, dan sekitar 50% belum memiliki rencana ekspansi dalam lima tahun ke depan.

Baca Juga: Dilema The Fed: Jaga Pasar Kerja atau Tekan Inflasi?

Kondisi ini berdampak pada terbatasnya penciptaan lapangan kerja. Data Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara mencatat, dari sekitar 2,5 juta hingga 3 juta angkatan kerja baru setiap tahun, hanya sekitar 500.000 yang terserap ke pasar kerja.

Merespons hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga daya tahan kelas menengah, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun perlindungan daya beli.

Pemerintah juga mendorong sektor padat karya melalui insentif perpajakan dan dukungan ekspor, khususnya pada industri tekstil, alas kaki, dan furnitur.

Selain itu, pengembangan sektor ekonomi digital dan hilirisasi industri juga terus didorong untuk membuka peluang kerja baru.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×