kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

KSSK Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Solid, Ini Faktor Pendukungnya


Selasa, 01 Agustus 2023 / 19:32 WIB
KSSK Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Solid, Ini Faktor Pendukungnya
Konferensi pers laporan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal II 2023, Selasa (1/8).


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap solid didukung permintaan domestik yang cukup tinggi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawari sekaligus Ketua Komite KSSK mengatakan, perekonomian Indonesia pada kuartal II 2023 diperkirakan masih tumbuh kuat, ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan tren ekspansif aktivitas manufaktur.

Adapun PMI Manufaktur Indonesia yang meningkat ke level 53,3 pada Juli 2023, lebih tinggi dibandingkan Juni 2023 sebesar 52,5. Konsumsi rumah tangga meningkat didorong oleh terus naiknya mobilitas, membaiknya ekspektasi pendapatan, dan terkendalinya inflasi, serta dampak positif dari Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan pemberian gaji ke-13 kepada Aparatur Sipil Negara.

Baca Juga: KSSK Waspadai Kondisi Inflasi Global Masih Tinggi, Nilai Tukar Bisa Kena Imbasnya

“Perkembangan tersebut juga disertai Indeks Keyakinan Konsumen dan Indeks Penjualan Ritel yang masih terus bertumbuh,” tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers, Selasa (1/8).

Selain itu, investasi nonbangunan masih terindikasi ekspansif, meski kondisi investasi bangunan masih relatif tertahan,. Hal ini sejalan dengan kinerja ekspor yang positif dan berlanjutnya hilirisasi.

Adapun berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Informasi dan Komunikasi. Sementara secara spasial, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh pertumbuhan wilayah Kalimantan dan Jawa yang masih kuat sejalan dengan terjaganya permintaan domestik.

“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2023 diproyeksi dapat mencapai kisaran 5,0%-5,3%,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani menyampaikan kinerja APBN sampai dengan semester I 2023 masih solid. Meskipun termoderasi di tengah normalisasi harga komoditas, pendapatan negara tetap tumbuh positif. Kinerja belanja negara juga terus ekspansif dan menopang berbagai agenda pembangunan serta menjaga stabilitas kondisi ekonomi makro.

Baca Juga: KSSK Beberkan Sejumlah Persoalan Global yang Bisa Mengancam Perekonomian RI

Hingga akhir Juni 2023, kondisi kesehatan fiskal terus terjaga dengan baik, tercermin dari surplus pada keseimbangan primer sebesar Rp 368,2 triliun dan surplus anggaran fiskal sebesar Rp152,3 triliun, setara dengan 0,71% PDB.

Kemudian, Pendapatan negara masih tumbuh positif 5,4% sehingga realisasi mencapai Rp1.409,7 triliun atau 57% dari target APBN. Selain itu, realisasi belanja negara semester I 2023 mencapai Rp1.255,7 triliun (41,0% dari pagu APBN).

Dia menambahkan, di tengah tren perlambatan ekonomi global serta dinamika geopolitik yang masih diselimuti ketidakpastian, APBN 2023 tetap berupaya keras dalam mendukung berbagai upaya pemulihan ekonomi dan pelaksanaan agenda prioritas nasional.

Pemerintah akan tetap mengoptimalkan peran APBN sebagai shock absorber untuk melindungi kesejahteraan rakyat Indonesia. Peran APBN untuk memperkuat fundamental ekonomi dan mendukung serta mendorong transformasi perekonomian juga terus diperkuat dan diefektifkan.

Sampai dengan akhir tahun 2023, Pemerintah akan melanjutkan dan menyelesaikan berbagai kegiatan pembangunan yang telah direncanakan seperti belanja infrastruktur, pemilu, dan belanja bansos.

Baca Juga: BI Raih Penghargaan Regulator Makroekonomi Terbaik se-Asia Pasifik

Penyaluran subsidi energi juga akan tetap dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat. Dengan demikian, pengelolaan APBN akan terus responsif dan adaptif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Dalam perspektif jangka menengah panjang, Pemerintah akan mengoptimalkan peran kebijakan fiskal dalam mendukung peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berwawasan lingkungan.

“Peran ini dilakukan antara lain melalui peningkatan kualitas SDM, percepatan pembangunan infrastruktur, transisi menuju pemanfaatan sumber energi yang rendah emisi, serta perbaikan kualitas birokrasi dan regulasi untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan daya saing bisnis yang tinggi,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×