kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

KSSK Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Tahun Ini


Selasa, 31 Januari 2023 / 19:18 WIB
KSSK Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Tahun Ini
ILUSTRASI. Pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (16/1/2023). KSSK Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Tahun Ini.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan, pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini masih tetap kuat, meski Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% dari sebelumnya 5%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, optimisme tersebut juga semakin kuat sejalan dengan penghapusan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada akhir tahun lalu.

Selain itu, masuknya aliran Penanaman Modal Asing (PMA), serta penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat.

“Dari sisi pertumbuhan ekonomi kami memperkirakan tahun 2022 akan mencapai pada kisaran 5,2%-5,3%.  Ke depan pertumbuhan ekonomi nasional di 2023 diperkirakan akan tetap kuat,” tutur Sri Mulyani dalam Konferensi Pers KSSK, Selasa (31/1).

Baca Juga: Menkeu: Kinerja Tahun 2022 Menjadi Bekal Positif untuk Hadapi Pasar Modal 2023

Perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berlanjut juga didukung oleh konsumsi rumah tangga yang menguat, disertai level inflasi lebih rendah dari yang sudah diperkirakan pada awal terjadinya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Berlanjutnya kinerja positif dari perekonomian Indonesia juga tercermin dari beberapa indikator dini yang terjadi pada tahun lalu, dan diperkirakan akan berlanjut pada tahun ini.

Beberapa indikator yang positif dan masih kuat diantaranya, indeks keyakinan konsumen (IKK), indeks penjualan riil (IPR) yang juga memberikan sinyal kuat dan optimis.

Sementara itu, PMI manufaktur Indonesia juga masih berada pada tren ekspansi yaitu pada level 50,9. Kinerja neraca perdagangan juga mencatatkan surplus dengan total surplus pada 2022 mencapai US$ 54,46 miliar.

“Ini adalah nilai surplus yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia,” kata Sri Mulyani.

Baca Juga: KSSK: Risiko Kredit Perbankan dan Perusahaan Pembiayaan Turun hingga September 2022

Sri Mulyani juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2023 akan lebih kuat dari pertumbuhan ekonomi pada periode sama tahun lalu saat terjadinya penyebaran virus Omicron Covid-19.

“Kemudian masuk Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang berarti tahun ini akan tetap full selebrasinya dan menimbulkan momentum pemulihan yang bertahan bagus,” tambahnya.

Di samping itu, Ia juga memperkirakan inflasi tahun ini masih tetap terjaga sehingga akan mendorong konsumsi yang akan lebih baik lagi dan juga inflasi, meskipun kondisi ekspor akan sedikit terkoreksi.

Dari indikator baik pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut, Sri Mulyani optimistis pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini akan sebesar 5%, atau bahkan bisa mendekati asumsi APBN 2023 yang sebesar 5,3%.

Meski optimistis, Sri Mulyani juga memastikan akan tetap waspada dan meninjau dengan baik dinamika perekonomian global yang terjadi ke depannya, agar dampaknya tidak besar ke Tanah Air.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×