kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Konsumsi energi harus lebih besar jika ingin PDB naik


Rabu, 23 Maret 2011 / 23:55 WIB
ILUSTRASI. Pemerintah membuka masa pencairan sebelum jatuh tempo ST004 pada 23 April 2020 hingga 4 Mei 2020.


Reporter: Bambang Rakhmanto |

JAKARTA. Indonesia perlu mengonsumsi energi setidaknya sekitar 2.200 kilowatt hours (Kwh) perkapita jika ingin mencapai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 3,8-4,5 triliun pada 2025. PDB sebesar itu menggolongkan Indonesia kedalam 12 kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Menko Perekonomian bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Lucky Eko Wuryanto, Rabu (23/3). "Saat ini, konsumsi energi kita baru 600 kwh perkapita, masih kalah jika dibandingkan Malaysia," kata Lucky.

Untuk itu, menurut Lucky, setiap tahunnya,pemerintah harus berusaha membangun proyek pembangkit listrik sebesar 3.300 megawatt di seluruh Indonesia hingga 2025. Sehingga pembangunan nantinya tidak lagi terpusat di pulau Jawa. "Tampaknya memang sulit, karena percepatan proyek pembangkit listrik 10 ribu MW saja masih bermasalah. Namun, itulah kebutuhan kita," kata Lucky.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×