kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Kemiskinan di perbatasan RI-Timor Leste menurun


Rabu, 15 Januari 2014 / 17:01 WIB
ILUSTRASI. FILE PHOTO: A TikTok logo is displayed on a smartphone in this illustration taken January 6, 2020. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo


Reporter: Fahriyadi | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Wilayah perbatasan RI-Timor Leste menjadi salah satu wilayah yang kerap dicap sebagai wilayah paling miskin dan tertinggal di Indonesia.

Namun, salah satu wilayah perbatasan tersebut yakni Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) diklaim telah berhasil menurunkan angka kemiskinannya.

"Akhir 2013, kemiskinan turun dari 17% menjadi 14% dari total penduduk Belu yang mencapai 400.000 jiwa," ujar Bupati Belu, Joachim Lopez saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/1).

Menurutnya program-program pemberdayaan masyrakat dan pengembangan sektor pertanian menjadi faktor menurunnya tingkat kemiskinan ini.

Ia menyatakan Kabupaten terdapat kedua di NTT setelah Kupang ini memiliki komoditas unggulan seperti jagung, padi, dan hewan ternak. Menurutnya sektor pertanian ini dibuat menarik bagi masyarakat agar bergairah bertani.

"Kami berikan insentif kepada petani seperti lahan kering yang diolah secara gratis kepada petani sehingga mereka semangat dan makin produktif," ujarnya.

Selain itu, tahun 2014 ini Belu disebutnya akan membuat smelter produk Mangan dengan investasi dari investor Australia dan ini diharapkan dapat menyerap puluhan ribu tenaga kerja kasar diwilayah tersebut.

"Petani yang tak punya lahan bisa bergeser ke sektor ini," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×