kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kemenparekraf Berupaya Turunkan Harga Tiket Pesawat, Demi Dongkrak Wisatawan Domestik


Rabu, 24 Januari 2024 / 05:55 WIB
Kemenparekraf Berupaya Turunkan Harga Tiket Pesawat, Demi Dongkrak Wisatawan Domestik
ILUSTRASI. Kemenparekraf mendorong pergerakan wisatawan nusantara (Wisnus) tahun ini 1,2 miliar hingga 1,5 miliar.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong adanya pergerakan wisatawan nusantara (Wisnus) tahun ini 1,2 miliar hingga 1,5 miliar. 

Namun, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan, target tersebut dapat tercapai apabila harga tiket pesawat domestik dapat turun. 
Pasalnya, sudah lebih dari sembilan bulan ini Kemenparekraf mendapat keluhan harga tiket pesawat domestik masih tinggi. 

"Tahun ini kita didorong untuk pergerakan wisnus 1,2 miliar sampai 1,5 miliar pergerakan. Ini bisa tercapai kalau tiket pesawatnya lebih terjangkau," ungkap Sandi dalam Weekly Briefing Kemenparekraf dikutip dari Kanal YouTube Kemenparekraf, Selasa (23/1). 

Baca Juga: Gelar SOTF 2024, Garuda Indonesia Bidik Transaksi Rp75 Miliar

Sandi mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kemenparekraf telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN dan maskapai penerbangan tentang tingginya harga tiket pesawat domestik. 

Koordinasi juga dilakukan untuk mendorong segala kemungkinan untuk menurunkan tiket pesawat domestik. 

"Karena ini (harga tiket pesawat domestik tinggi) memberatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dan kami akan berupaya secara maksimal untuk menekan biaya tiket pesawat domestik dan lebih terjangkau bagi masyarakat yang ingin healing ke destinasi unggulan," imbuhnya. 

Berdasarkan identifikasi Kemenparekraf penyebab tiket pesawat domestik tinggi di antaranya, kurangnya jumlah pesawat, minimnya jumlah penerbangan dan sedikitnya ketersediaan kursi. 

Sandiaga juga mengungkapkan biaya bahan bakar dan beberapa biaya penunjang lainnya juga berkontribusi pada mahalnya harga tiket pesawat domestik. 

"Berapa persen kenaikannya ini kalau dibandingkan kenaikannya sangat tinggi dibandingkan sebelum pandemi," kata Sandiaga.

Baca Juga: Menilik Prospek Bisnis Penerbangan pada Tahun 2024  

Ia menambahkan, rute pesawat paling mahal ada di Indonesia Timur serta sebagian di destinasi wisata unggulan seperti di Sumba, NTB.

Apabila harga tiket pesawat domestik terus tinggi Sandi menyebut,  akan berdampak negatif pada industri pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Sandiaga mengungkapkan, upaya mengatasi tingginya harga tiket pesawat domestik dilakukan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, serta maskapai  penerbangan. Selain itu, perlu juga adanya kebijakan insentif dari pemerintah daerah.

"Kita ingin agar lebih terjangkau dan lebih banyak opsi penerbangan ke destinasi wisata," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×