kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kemenko Perekonomian: Pergerakan Harga Pangan Saat Ini Masih Dipengaruhi El Nino


Rabu, 02 Agustus 2023 / 16:22 WIB
Kemenko Perekonomian: Pergerakan Harga Pangan Saat Ini Masih Dipengaruhi El Nino
ILUSTRASI. Pada semester II 2023 ini, pergerakan harga pangan masih akan dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama fenomena El Nino.. KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, pada semester II 2023 ini, pergerakan harga pangan masih akan dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama fenomena El Nino.

BMKG memperkirakan dampak El Nino bersifat moderat tapi tetap perlu mengantisipasi dampaknya terhadap komoditas pangan.

Plt Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, sejak fenomena tersebut muncul sebenarnya pemerintah telah mengantisipasi dengan berbagai upaya mitigasi dampak kekeringan El Nino tahun ini.

Di antaranya dengan mempersiapkan tampungan air yakni bendungan, situ, embung, dan lainnya, dukungan pembiayaan seperti program asuransi usaha petani, KUR, penyaluran kredit taksi alsintan, penguatan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).

Baca Juga: Hadapi El-Nino, Pemerintah Siapkan Rp 8 Triliun untuk Bantuan Pangan

Kemudian, juga melakukan penguatan pemantauan data dan informasi seperti ketersediaan sumber air, prakiraan bencana kekeringan, neraca pangan, pemetaan wilayah, serta penguatan penyediaan sarpras pertanian yakni benih tahan kekeringan, pupuk organik, rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan launnya.

“Dengan persiapan yang matang dan sinergi berbagai pihak, diharapkan dampak dari El Nino terhadap produksi pangan maupun harga dapat dikendalikan,” tutur Ferry kepada Kontan.co.id, Rabu (2/8).

Berdasarkan rilis data Indeks Harga Produsen oleh BPS, harga produk pertanian mengalami kenaikan sebesar 6,49% yoy dan 0,85% qtq. Secara tahunan, peningkatan harga yang terjadi relatif tinggi didorong oleh kenaikan pada subsektor Tanaman Bahan Makanan dan subsektor Peternakan.

Komoditas yang ditengarai mendorong kenaikan keduanya antara lain beras, daging ayam dan telur ayam ras. Kenaikan harga beras terjadi sejak Juli 2022 yang dipengaruhi oleh produksi yang menurun akibat cuaca buruk hingga awal tahun 2023.

Anomali cuaca yang terjadi juga berdampak pada hasil panen raya pada bulan Maret-April yang tidak optimal. Sementara itu, harga daging ayam dan telur ayam mengalami kenaikan disebabkan peningkatan harga jagung pakan serta belum pulihnya pasokan ayam akibat afkir dini pada tahun lalu.

Meski begitu, Ferry menegaskan, secara kuartalan harga produk pertanian hanya mengalami kenaikan tipis dibanding kuartal sebelumnya, sehingga  kondisi pertanian saat ini masih relatif terkendali.

Selain itu, beberapa komoditas yang meningkat diantaranya daging ayam dan telur ayam, Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional telah melaksanakan sejumlah kebijakan untuk menstabilkan harga jagung pakan, diantaranya melaksanakan fasilitasi distribusi dari daerah produksi ke daerah konsumsi, salah satunya dari NTB ke Jawa Tengah dan Jawa Timur agar harga jagung di peternak tidak semakin melonjak.

Baca Juga: Inflasi Terus Melandai, BI Tak Perlu Menaikkan Suku Bunga

Sementara itu, terkait harga beras yang meningkat, menurut Ferry Pemerintah juga telah melakukan upaya stabilisasi harga melalui pemberian bantuan beras selama 3 bulan dari Maret-Juni 2023 sebagai antisipasi kenaikan harga pada momen HBKN Ramadan dan Idulfitri dan menjaga daya beli masyarakat miskin.

“Bantuan beras tersebut direncanakan akan diberikan lagi pada periode Oktober-Desember untuk menjaga daya beli masyarakat menghadapi momen HBKN Natal dan Tahun Baru,” jelansya.

Selanjutnya, pemerintah juga melalui Kementerian Keuangan memberikan insentif fiskal tahun berjalan sebesar Rp 330 miliar sebagai apresiasi bagi daerah dalam pengendalian inflasi.

Dengan adanya pemberian insentif tersebut diharapkan mendorong daerah semakin fokus dalam penanganan inflasi terutama antifipasi El Nino, musim kering dan berbagai risiko sehingga daerah tetap mewaspadai risiko infllasi terutama dari yang berasal non-moneter dan non-core inflation.

Lebih lanjut, saat ini pemerintah terus memonitor perkembangan harga pangan maupun ketersediaannya, terutama pangan pokok diantaranya beras, telur dan daging ayam, aneka cabai dan lainnya.

“Pemerintah mencermati berbagai risiko terkait stabilisasi harga baik dari dampak El Nino maupun geopolitik global dan tetap optimis bahwa inflasi tahun 2023 akan terkendali dalam rentang sasaran target,” imbuhnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×