kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Kemenkeu: BPK punya hak dan wajib mengaudit BUMN


Senin, 28 Oktober 2013 / 13:46 WIB
ILUSTRASI. Promo Traveloka TTM s.d 26 Juni 2022, Diskon Bank Xperience Hingga Rp100.000


Reporter: Dikky Setiawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pemerintah masih menunggu nasib Undang-undang Keuangan yang sedang dilakukan uji materi, di Mahkamah Konstitusi (MK).

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Hadiyanto menyatakan, sikap pemerintah sudah jelas, bahwa sesuai hukum positif, kekayaan negara yang dipisahkan masuk dalam keuangan negara. Karena itu, ia menyerahkan semua hasil gugatan tersebut kepada MK.

"Jawaban pemerintah sudah clear, jadi kami sedang menunggu pandangan MK. Kami juga sedang tunggu putusan MK. Saya tidak mau mendahului," katanya kepada wartawan, Senin (28/10/2013).

Menurutnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih berhak dan wajib mengaudit Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"BPK punya kewenangan mengaudit keuangan negara. Jadi, kalau keuangan negara termasuk kekayaan negara dipisahkan, berarti termasuk kewenangan BPK. Menurut hukum positif, BPK memiliki kewenangan itu," jelasnya.

Forum Biro Hukum BUMN saat ini sedang melakukan gugatan uji materi ke MK, terhadap UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Judicial Review menyangkut materi pasal 2 huruf (g) dan (h), terkait materi Kekayaan Negara yang dipisahkan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×