Reporter: Hervin Jumar | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan, hantavirus hingga saat ini belum berpotensi menjadi pandemi baru di Indonesia.
Pemerintah meminta masyarakat untuk tenang tetapi tetap waspada menyusul ditemukannya 23 kasus positif hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati mengatakan, pola penyebaran hantavirus umumnya terjadi melalui kontak dengan reservoir utama seperti tikus dan celurut yang terinfeksi.
Baca Juga: Dinamika Cadangan Devisa Bergantung pada Risiko Global dan Rupiah
“Penularan ini dapat terjadi akibat gigitan hewan maupun paparan dari ekskresi dan sekresinya seperti air liur, urin, kemudian fesesnya,” ujar Widyawati dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).
Selain itu, virus juga dapat menyebar melalui inhalasi aerosol, yakni ketika seseorang menghirup partikel debu yang telah terkontaminasi cairan atau kotoran hewan terinfeksi.
Widyawati menegaskan, penularan hantavirus antarmanusia sangat jarang terjadi.
“Hingga saat ini, laporan penularan antar manusianya sendiri hanya terbatas pada tipe HPS tertentu yang ditemukan di wilayah Amerika Selatan,” katanya.
Itu sebabnya, Kemenkes meminta masyarakat tidak panik terhadap berbagai informasi mengenai hantavirus yang beredar di media sosial.
“Kalau apakah ditanya akan menjadi pandemi, mudah-mudahan tidak, ya,” sambungnya.
Ia mengingatkan masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah utama pencegahan, termasuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus maupun kotorannya.
Baca Juga: Kasus Hantavirus di RI Tembus 23 Orang, Kemenkes Perkuat Skrining
Selain itu, masyarakat juga diminta lebih bijak dalam menyaring informasi terkait hantavirus agar tidak mudah terpengaruh kabar yang belum jelas sumbernya.
“Kalau misalkan ada yang mendapat satu berita, tolong dilihat sumbernya jelas atau tidak. Kalau perlu, langsung saja bertanya kepada kami di Kementerian Kesehatan,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













