Sumber: Kompas.com | Editor: Anna Suci Perwitasari
Namun Luhut memastikan, pemerintah telah merespon kondisi yang ada di wilayah-wilayah tersebut, sehingga diharapkan dalam penerapan PPKM kali ini kasus penularan dan kematian akibat Covid-19 bisa berkurang.
Menurut dia, masih tingginya kasus kematian pasien Covid-19 disebabkan banyaknya masyarakat yang melakukan isolasi mandiri, dan telat untuk mendapatkan perawatan insentif di rumah sakit yang akhirnya menyebabkan kematian karena saturasi oksigen secara rata-rata berada di bawah 90.
Oleh sebab itu, pemerintah mendorong penambahan pembukaan isolasi terpusat di wilayah-wilayah yang menjadi perhatian khusus. Serta mendorong peran TNI-Polri dan pemerintah daerah (pemda) untuk terlibat ajtif dalam proses 3T atau testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan), dan treatment (pengobatan).
Selain itu, turut terlibat dalam penjemputan kepada masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri agar tidak terjadi keadaan yang tidak diinginkan karena kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 lengkap di Indonesia baru 10% dari target
"Terkait angka kematian yang tinggi, pemerintah melakukan berbagai intervensi untuk menurunkan angka kematian. Misalnya kami bentuk satgas untuk menjemput yang positif dari rumah dan di bawa ke isolasi terpusat," jelas Luhut.
Di sisi lain, untuk mengoptimalkan penanganan Covid-19, pemerintah juga telah mengalihkan penggunaan dana desa sebesar 8 persen untuk kebutuhan pembelian barang-barang yang diperlukan guna mendeteksi penyebaran Covid-19 sedini mungkin.
"Jangan sampai ada yang meninggal lagi di kediaman atau isolasi mandiri," tutupnya. (Yohana Artha Uly)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sebut Kasus Covid-19 Harian Turun 50 Persen. Luhut: Kita Tetap Harus Berhati-hati".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













