Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pergerakan masyarakat pada periode Lebaran 2026 akan mengalami penurunan tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
Kementerian tersebut memproyeksikan jumlah pemudik turun sekitar 1,7% dari 146,4 juta orang pada 2025 menjadi sekitar 143,9 juta orang pada tahun ini.
Kendati begitu, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto memproyeksikan kapasitas masyarakat untuk melakukan mobilitas pada periode Lebaran tahun ini justru akan meningkat.
Baca Juga: Tekanan Biaya Hidup dan Perubahan Kelas Menengah, Jumlah Pemudik 2026 Turun
Myrdal menilai peningkatan belanja pemerintah pada awal tahun serta berbagai stimulus pendapatan masyarakat semestinya mendorong mobilitas selama periode mudik.
"Kalau dari hitungan kami, justru dari sisi belanja untuk kebutuhan mobilitas transportasi harusnya meningkat. Apalagi sejak awal tahun pemerintah sudah mengakselerasi belanja program prioritas pembangunan," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Minggu (8/3/2026).
Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan tunjangan hari raya (THR) serta gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN), baik pegawai negeri sipil maupun pegawai non-PNS.
Di sektor swasta, perusahaan juga dinilai relatif patuh dalam memberikan THR kepada karyawan. Menurutnya, tambahan pendapatan tersebut semestinya memperkuat daya beli masyarakat menjelang Lebaran. "Jadi seharusnya sih ini mendorong mobilitas itu menjadi lebih tinggi," katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga memberikan berbagai insentif transportasi selama periode mudik, sehingga harga tiket tidak mengalami kenaikan signifikan.
Dengan kondisi tersebut, Myrdal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 tetap relatif kuat.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I dapat mencapai sekitar 5,37% secara tahunan. Sementara itu, konsumsi rumah tangga atau private consumption diproyeksikan tumbuh sekitar 5,16%, lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 5,11%.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menahan mobilitas masyarakat pada periode Lebaran tahun ini.
Salah satunya adalah tekanan inflasi, terutama dari sisi energi. Myrdal menyoroti adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada awal Maret dibandingkan Februari.
Baca Juga: Ditjen Pajak Tegaskan Tak Berburu di Kebun Binatang dalam Pengumpulan Pajak
"Yang kami soroti itu seberapa cepat transmisi dari lonjakan harga energi global terhadap biaya transportasi di Indonesia," ujarnya.
Selain energi, kenaikan harga beberapa komoditas pangan juga mulai terlihat, meskipun masih dalam batas normal karena faktor musiman menjelang Lebaran dan kondisi cuaca.
Harga emas yang meningkat serta curah hujan yang masih tinggi juga dinilai bisa mempengaruhi keputusan sebagian masyarakat untuk mudik.
Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem dapat membuat sebagian orang menunda perjalanan karena khawatir dengan potensi banjir di daerah asal maupun di tempat tinggal mereka saat ini.
Meski begitu, secara keseluruhan Myrdal menilai fundamental ekonomi masih cukup kuat untuk menopang aktivitas ekonomi pada awal tahun.
Ia menilai kuartal pertama merupakan periode puncak (peak season) aktivitas ekonomi pada 2026, terutama karena meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat menjelang Lebaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













